[NO Korean FF/Cerpen] Sepenggal Lagu

 SEPENGGAL LAGU

          Ternyata hati tak bisa berdusta

          Meski kucoba, tetap tak bisa

          Dulu cintaku banyak padamu

          Namun sekarang entah berkurang

 

                   Maaf ku jenuh padamu

                   Lama sudah kupendam , Tertahan di bibirku

                   Mau ku tak menyakiti

                   Meski begitu indah, kumasih tetap saja jenuh..

(Jenuh – Rio Febrian)

***

Aku menutup lembaran kecil di hadapanku, lalu beralih menatap segelas susu cokelat hangat di sampingku. Lama-kelamaan rasanya aku terlalu tega untuk membiarkan susu itu mendingin tanpa kusentuh sedikitpun sedari tadi.

Layar ponselku tiba-tiba menyala, mau tak mau aku mengalihkan pandanganku ke arah sana.sial, ternyata itu hanya pergantian jam. Aku kira ada panggilan atau sekedar pesan masuk, kuusap kembali layar ponselku dan menatap wallpaper yang kupilih.

Sebuah foto yang kuambil sekitar delapan bulan yang lalu, aku berempat dengan kedua sahabatku dan.. seseorang yang telah kupercaya sebagai tempat untuk melabuhkan perasaanku. Kurasa aku merindukan saat itu kembali, kurasa aku ingin waktu dapat berputar dan kembali ke masa itu.

Berbicara tentang hal di atas, benar aku memiliki seorang kekasih. Yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terfikir olehku untuk menjalin hubungan dengannya. Namun, memang cinta adalah sebuah proses. Satu kalimat yang biasa dilontarkan oleh anak-anak muda yang mulai dimabuk asmara.

Witing in tresno, jalaran saka kulino. Peribahasa dalam bahasa Jawa yang berarti ‘Sesuatu yang disukai, berawal dari sebuah kebiasaan.’ Aku yakin dan sangat yakin dengan hal tersebut, karena apa? Aku juga merasakannya.. sejak awal aku tidak mengenal, namun seiring berjalan waktu perasaan mulai muncul.

Hidup bukan sebuah sinetron, yang segala cerita berawal dari kejadian bertemu secara tidak sengaja atau tertabrak. Hidup butuh proses panjang, dan pada umumnya segala sesuatu yang berawal secara kilat akan berakhir secara kilat pula. Maka dari sanalah sebuah proses diperlukan.

Aku menjalin hubungan dengannya pada awalnya hanya karena aku merasa tidak kuat hati untuk menolak pernyataan cinta tersebut. Namun lelaki itu selalu bersikeras untuk menyakinkanku, hingga akhirnya aku percaya dan mulai membuka hati.

Ada satu lagu yang sangat kuingat kala itu, karena ia memberikan liriknya kepadaku untuk kubaca. Sebuah lagu dari grup band terkenal di Indonesia, sebuah lagu dengan lirik yang memiliki arti yang cukup dalam.

Aku bisa membuatmu..

          Jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku..

          Beri sedikit waktu, biar cinta datangnya telah terbiasa kepadamu..

Tidak, aku bukan remaja yang mudah galau yang setiap saat menuliskan perasaanku di jejaring sosial dan memilih banyak lagu untuk menggambarkan perasaanku. Aku tidak senaif itu, namun terkadang aku menyimpan rasa kagum bagaimana seorang pujangga bisa menuliskan berbagai banyak kata-kata indah seperti itu.

Namun, sudah kubilang itu dahulu. Dahulu di mana banyak saat-saat bahagia yang membuatku tidak mudah kesepian. Seandainya mesin waktu ada dan dijual secara bebas, aku akan mengulang saat-saat itu.

Karena sekarang aku tak sedekat lagi dengannya seperti dulu, kami terpisah dengan jarak yang tidak seberapa jauh. Meski begitu, rasanya banyak tembok yang menghalangi kami. Aku tidak tahu kabarnya, aku tidak melihatnya, aku tidak berhubungan dengannya selama berbulan-bulan setelah sekolah kami berbeda.

Bohong kalau aku merasa baik-baik saja, tidak perduli bagaimana cueknya aku. Namun aku pasti merindukannya, atau.. setidaknya meminta kejelasan padanya mengenai hubungan kami. Namun, aku tidak pernah bisa menghubunginya. Terlalu susah hanya untuk menghubunginya..

Dan setelah itu, hubungan kami menjadi datar. Saking datarnya aku bahkan merasa aku tidak terikat dalam sebuah hubungan dan melajang. Dan sepertinya perasaan itu telah sampai titik teratas dan menimbulkan kejenuhan yang entah sejak kapan telah kurasakan.

Maka dari itu, setiap kali aku mendengar lagu dari Rio Febrian yang berjudul ‘Jenuh’ ada satu titik dalam hatiku yang membenarkannya. Namun, aku tidak punya kekuatan untuk menyudahi hubungan ini. Bodoh kan aku? Aku memang terlalu percaya dan perasaanku memang dalam untuknya. Namun untuk saat ini, biarkanlah saja hal ini berjalan apa adanya seiring takdir yang mempermainkanku dan mempermainkan hatiku. Seiring waktu yang sepertinya tidak pernah berpihak kepadaku dan seiring diriku yang tidak pernah mampu membuat keputusan..

-Athiya Almas Rona-

From zero to anything that i can’t explain it

Categories: FACT, General, Oneshoot | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: