No One Else

Author: @Shfllyy3424

Title: (Chaptered) No One Else

Genre: Romantic, Drama, a little angst

Rating: Teen

 Cast:

  • Henry Lau (Super Junior M)
  • Lee HyeKyung (OC)

Other cast:

  • Super Junior’s member
  • SM’s Member
  • Cari sendiri

Ps:       Back with Henry-HyeKyung’s couple. Sebenarnya saya ini tidak konsisten mau mencouplekan HyeKyung dengan Yesung atau Henry._. kalau YeKyung couple itu seperti kehidupan idaman saya, sangat sangat idaman. Apalagi punya anak kaya Jo twins.

            Sedangkan HenKyung couple itu jujur adalah cerita kehidupan nyata saya, kalau ada yang pernah membaca fanfic HenKyung couple karya saya yang berjudul ‘Anything’ ya.. kehidupan saya seperti itu. Entahlah apa status saya, single atau taken dengan ‘Henry’. Lupakan aja.. kok jadi curhat-_-v tapi pokoknya ini REAL bukan karangan, saya hanya mencoba menceritakannya dengan bahasa yang berbeda. Seseorang yang saya umpamakan sebagai Henry di luar sana, sekarang kita udah berjarak cukup jauh. Lalu dengan yang seperti ini, apakah ini masih bisa dikatakan sebuah hubungan?

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

  1. fb: athiya almas
  2. wp: athiya064.wordpress.com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON’T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading ♥

Namaku Lee Hyekyung, aku berasal dari daerah yang cukup terkenal di Korea, Incheon. Ini kehidupanku, aku memiliki seorang kekasih yang umurnya lebih muda dariku 6 bulan, menurut orang hubungan dengan wanita yang lebih tua itu sedikit tabu? Benarkah? Tapi menurutku hubungan seperti ini tidak terlalu buruk juga, pada awalnya..

Menurutku aku adalah gadis mandiri, aku paling tidak suka ketika seseorang mulai mendominasi atas diriku. Aku tidak suka dikuasai, aku lebih suka menguasai, mungkin hal itu yang menjadikanku sedikit egois. Tapi aku tidak sampai seperti itu, selain lebih suka menguasai aku juga lebih suka mengalah dan tidak membiarkan diriku untuk terlalu ikut campur apalagi sampai mengatur-atur orang lain sesukaku. Mungkin dua hal bertentangan itu yang membuat diriku menjadi aneh.

Aku adalah sosok yang ramai, sangat ramai malah menurutku, aku juga orang yang terlalu blak-blakan. Tapi tidak pada semua orang aku menceritakan masalahku, terkadang aku memendamnya dan membiarkan orang lain tahu banyak hal tentangku kecuali masalahku yang benar-benar parah. Temanku yang memahamiku sering menjulukiku dengan sebutan ‘Terbuka tapi tertutup, menyala tapi redup.’ Aneh bukan? Haha. Tidak semua orang memiliki akses pada diriku sampai titik terdalam aku berfikir, aku juga orang yang sedikit anti sosial. Menurutku memiliki teman yang sangat sedikit asal akrab dan mampu memahamiku itu lebih dari cukup, beradaptasi dengan orang baru bukan keahlianku. Itu sebabnya aku tidak terlalu dikenal, bahkan cenderung terasingkan. Dan menurutku hidup sendirian itu jauh lebih baik daripada bila aku berkumpul dengan banyak orang yang tidak akrab denganku.

Kembali ke topik, Henry? Kau tau dia adalah orang yang begitu polos, terkadang aku berfikir bila jenis kelamin kami tertukar itu akan lebih baik. Menurut orang terkadang aku memang lebih pantas menjadi seorang laki-laki, namun kadang di banyak waktu aku akan bersikap seperti wanita pada umumnya. Saat ini kami sudah menjalani hubungan selama dua tahun, sebenarnya tidak terlalu banyak konflik yang kami alami. Bahkan hubungan kami terkesan.. datar.

Namun itulah, ke-dataran itu adalah sumber masalah. Aku baru menyadarinya beberapa saat terakhir ini, aku adalah orang yang cuek? Mengapa aku tidak menyadarinya? Dan sayangnya kecuekanku malah terdukung oleh sifat tidak peka Henry. Perlu kujelaskan Henry adalah orang yang sangat tidak peka, namun terkadang ia menjadi orang paling peka terhadapku. Dia bagai mood swing selalu berubah-ubah setiap waktu.

Aku bahkan sangat terlihat seperti tidak mencintai Henry, hey sudah kubilang belum ada yang sampai sangat memahamiku jadi kuyakin orang-orang itu salah menilaiku. Aku cinta pada Henry tentu saja! Kalau tidak cinta mana mungkin aku mempertahankan hubungan kami yang membosankan? Tapi, biar bagaimanapun masalah akan selalu datang. Aku pernah mengakhiri hubunganku dan Henry di tengah jalan selama sekitar 2bulan.

Henry selalu memohon padaku agar ia bisa kembali padaku, tapi saat aku menerima pernyataannya janji hanya tinggal janji, perkataan itu tidak terukir namun hanya terucap dan kemudian diterbangkan oleh hembusan angin, selesai dan berakhir. Namun, aku kira aku dapat mempertahankan hubungan kami setelah ini. Nyatanya semua itu hanya harapan kosong belaka, dia kembali menjadi orang yang seperti itu.

Setelah aku lulus, kami berkuliah di tempat yang berbeda. Aku melanjutkan kuliahku di Inggris sementara Henry melanjutkan kuliahnya di Kanada. Frekuensi kami bertemu pun sangat-sangat kecil bahkan enam bulan ini kami belum bertemu sekalipun. Tapi Henry tidak menghubungiku sama sekali, setidaknya kalau ia tidak ingin menghubungiku lewat telepon atau pesan singkat karena harus menyertakan kode negara dan sebagainya yang sangat merepotkan, bukankah masing-masing dari kami memiliki akun jejaring sosial? Aku dan Henry memiliki surat elektronik, twitter, facebook dan berbagai jejaring sosial lainnya. Namun mengapa ia tidak juga menghubungiku? Sebenarnya hubungan seperti apa yang kami jalani ini?

.

..

“Kau menggantungkan hubungan ini.. kau diamkan aku tanpa sebab, bicaralah biar semua pasti..” aku melirik Gracia dengan malas. Ia menyanyikan lagu itu dengan sangat lancar, mungkin maksudnya menyindirku. Gracia adalah temanku yang berasal dari Indonesia, aku tahu lagu yang ia nyanyikan adalah salah satu lagu karya musisi terkenal di Indonesia. Dan parahnya Gracia memberikanku terjemahan lagu itu dalam bahasa Inggris, dan artinya. Yeah kau tahulah, mungkin bisa disebut lagu itu benar-benar menggambarkan diriku.

Shut up!” seruku kasar. Gracia hanya tertawa pelan, aku membekap mulutnya dengan telapak tanganku. “Bisa kau menyanyikan lagu lain? Seharusnya kau tidak usah memberikanku terjemahan lagu itu agar aku tidak mengerti artinya.” Aku berkata ketus, sebenarnya aku tidak marah. Hanya saja, keadaan yang terlalu sesuai dengan lirik lagu itu yang membuatku kesal.

“Kenapa kau mempertahankannya?” tanya Gracia. “Because i haven’t any choice.” Jujurku, Gracia memeluk pundakku lembut. “Kau pasti punya pilihan, hanya saja pilihan itu memang selalu susah untuk diputuskan. Apa yang kau lakukan ini juga merupakan pilihan bukan? Kau memilih untuk bertahan tanpa kepastian, betapa aku salut padamu.”

“Hmm, kau benar. Kau tahu, aku memang tidak punya pilihan. Aku hanya membiarkannya, biarkan saja berjalan seperti apa adanya. Aku merasa tidak bisa untuk mengakhirinya, kumohon jangan mengingatkanku tentang hal ini. Aku bisa menangis jika mengingatnya, namun aku juga tidak ingin terlihat terlalu lemah seperti itu.”

“Kalau kau ingin menangis, lakukan saja. Sebagai perempuan menangis adalah sebuah hal yang wajar untuk dilakukan. Kau menahan perasaan ini berbulan-bulan, kau terluka tapi kau menutupinya. Kalau kau memahaminya, itu justru lebih menyakiti dirimu. Menangislah tidak ada yang salah untuk meneteskan air mata untuk hal seperti ini, bahkan segala perasaan itu jika kau luapkan dengan menangis hanya dalam satu jam saja pasti akan membuatmu merasa lega dan dapat melupakan masalahmu sejenak.”

“Gra, stop it. Kau tahu, aku lebih baik ketika orang-orang merasa tidak perduli dengan masalahku. Jika sepertimu ini, aku malah lebih tidak dapat menahannya. Seandainya aku punya kekuatan untuk mengakhiri hubungan ini, dan bisa berpindah hati secepat orang lain. Namun aku tidak bisa..” kurasakan lelehan air mata mengalir di pipiku, cepat-cepat kuhapus kasar air mata itu dengan punggung tanganku. “Kalau begitu akhiri saja, tidak ada orang yang setahan dirimu. 6 bulan! Demi Tuhan, apa kau tidak jatuh cinta pada orang lain selama itu?” aku menggeleng.

“Baiklah, singkirkan dulu masalah ini. Tapi kau bisa mengingat, suatu saat nanti kau memiliki tempat untuk mencurahkan perasaanmu, suatu saat kau bisa menyerah dengan segala hal yang telah kau lakukan. Dan suatu saat nanti, kau bisa berhenti menjadi orang yang berpura-pura kuat padahal kau tidak.” Meski perkataan Gracia sedikit kasar, namun aku bisa menangkap maksud baik di dalamnya. “Ye, gumawo.. jeongmal gumawo.” Balasku. “Kau ini bicara apa? Aku heran, temanku adalah orang Korea tapi aku tidak juga terjangkit demam Korea yang mewabah itu.” Aku tertawa mendengar pernyataan Gracia.

.

..

“HyeKyungie!!” aku menoleh, tumben ada seseorang yang menyapaku dengan panggilan akrab seperti itu. Rata-rata temanku di Inggris ini hanya memanggil nama margaku saja, menyebalkan. “Aigoo, lama sekali aku tidak melihatmu!” sosok lelaki tinggi di hadapanku langsung memelukku rapat. “Kyu?” panggilku ragu, lelaki itu melepaskan pelukannya. “Kau masih ingat aku? Terima kasih Tuhan, kukira kau telah melupakanku sahabatmu sedari kecil ini haha.”

“Kau ini bicara apa, tidak mungkin aku melupakan seseorang seperti Cho Kyuhyun ini. Oh iya, mengapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau mengambil kuliah S2 untuk jurusan bisnis di United States?” tanyaku kaget. “Memang, hanya aku sedang mendapatkan masa libur 3 bulanku. Kemudian aku memutuskan untuk menemuimu, dan aku rasa Inggris merupakan sebuah negara yang cukup indah untuk menghabiskan liburan.”

“Ah begitu, lalu kau tinggal di mana?” kami berjalan beriringan. “Ayahku kan memiliki satu hotel di London, dan kebetulan juga dekat dengan universitas mu ini.” Aku mengangguk. “Lalu bagaimana?” aku mengangkat alis bingung. “Bagaimana apanya?”

“Hubunganmu, dengan lelaki Cina itu?” Kyuhyun memang mengetahui hubunganku dengan Henry, dan ia pernah menentangnya. “Tidak bagaimana-bagaimana, biasa saja.” ‘Terlalu datar malah.’ Tambahku dalam hati. “Memang kau tidak terganggu harus berpisah? Kanada itu bukan dari Seoul ke Incheon, tapi sudah berbeda benua dengan tempat kau tinggal sekarang ini.”

“Kurasa aku masih bisa mempercayai Henry, kami saling percaya jadi jarak kan bukan penghalang.” Kyuhyun menatapku sebal. “Aku tidak perduli dengan kepercayaan yang kau jaga itu, Henry mungkin tidak akan jatuh cinta dengan orang lain. Kecuali dengan gadis-gadis yang selalu mendekatinya itu, maksudku adalah.. berbeda kelas saja kalian sudah sangat tidak dekat, bagaimana dengan berbeda benua?”

“Ah itu.. lebih baik jangan membahasnya! Aku merindukanmu, apa kau tidak ingin berjalan-jalan bersamaku? Bagaimana kalau ke bioskop? Ayolah! Dari kemarin aku belum sempat untuk menonton Breaking Dawn, aku sangat penasaran dengan lanjutan ceritanya!” ajakku untuk mengalihkan pembicaraan kami. “Baiklah, ayo kita ke bioskop. Meski kuakui aku tidak perduli dengan hubungan vampire-human-werewolf tidak penting itu, namun karena kau yang mengajak. Ayo kita nonton!”

.

..

“Berapa harga kasih sayang Henry bagimu?” aku tersentak, saat ini kami sedang duduk bersama di sebuah cafe. Aku menjauhkan bibirku dari sedotan milkshakeku. “Maksudmu?” tanyaku menatap Kyuhyun. “Kumohon, jangan menyiksa dirimu seperti ini.”

“Mengapa semua orang selalu menganggap aku tersiksa? Aku tidak seperti yang kalian fikirkan, sudahlah Kyu.” Entah mengapa, rasanya seperti aku yang menghibur Kyuhyun dan dia adalah pihak yang tersakiti di sini. Ditambah dengan wajah sendu yang Kyuhyun tunjukkan padaku, aku hanya diam. “Terlalu susah untuk memahamimu dan mengikuti jalan fikiranmu, namun satu hal yang harus selalu kau percaya, bila kau merasa tidak mampu lagi aku akan ada untukmu. Kau hanya perlu berbalik dan berhenti untuk menatap lelaki itu.”

“Kau terlalu mirip dengan Gracia temanku.” Aku tertawa pelan, Kyuhyun menyentuh puncak kepalaku. Mengacak rambutku pelan, aku menatap Kyuhyun lelaki itu tersenyum. “Setidaknya aku masih lega dapat melihatmu tertawa seperti ini.” Ucap Kyuhyun. “Hmm, sejak kapan aku tidak dapat tertawa jika dekat denganmu?”

“Kalau begitu teruslah di dekatku.” Kyuhyun tersenyum jahil. “Hmm? Mwoyaa?” tanyaku. Kyuhyun menggeleng, “Tidak jadi ah. Sudah sore, apa kau mau pulang?” aku mengangguk.

.

Kyuhyun mengantarku sampai depan rumahku yang kubeli di London ini, Kyuhyun keluar dari mobil. “Ini rumahmu?” aku mengangguk. “Kelihatannya nyaman sekali, sepertinya esok-esok aku harus main ke sini.” Aku tersenyum. “Tentu saja! Aku kesepian tinggal di sini terus Kyu. Eh kenapa kau tidak mampir sekalian?”

“Tidak, hari ini aku harus ke hotel lebih cepat. Aku akan mewakili appa untuk meeting dengan investor di hotel hari ini juga.” Aku mengangguk. “Ah, calon direktur Cho! Hihihi..” Kyuhyun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Jangan memanggilku seperti itu, kedengarannya aku sangat tua.”

“Baiklah, aku masuk dulu. Jalggae Kyuhyun-ah!” seruku. Aku berbalik setelah melambaikan tangan pada Kyuhyun, namun baru dua langkah aku merasakan lenganku ditahan. Aku berbalik dan bermaksud untuk bertanya pada Kyuhyun. Namun aku terkejut ketika merasakan hangat pada dahiku, Kyuhyun.. menciumku?

Aku hanya terdiam, sementara Kyuhyun menahan tengkukku. Beberapa saat kemudian, Kyu menjauhkan wajahnya. “Joahaeyo.” Ia tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkanku yang masih terpaku di tempatku, Kyuhyun.. apa yang kau lakukan?

***

Henry, kau di mana? Ini sudah hampir delapan bulan kita tidak saling memberi kabar. Kau tahu terkadang aku tidak menyadari betapa aku merindukan dirimu, bagaimana perasaanmu di sana? Tidakkah kau merindukanku juga?

Henry, entah mengapa aku merasa sangat bersalah padamu. Kau tahu, kehampaan yang kurasakan ketika kau meninggalkanku tanpa kabar masih sangat terasa. Namun, keberadaan seseorang membuat segalanya berbeda. Kau tahu, aku merasa lebih baik dan melupakan segala penantianku akan dirimu. Setiap ada dia, entah mengapa hasrat untuk menyerah dan mengalah lebih besar. Aku memang lemah dan dia selalu memberikanku ketentraman, seolah bila aku jatuh padanya segalanya akan baik-baik saja karena ia akan mendekapku.

Apa aku jatuh cinta lagi Henry? Apa aku mengkhianatimu? Tapi bagaimana aku bisa menampiknya, dia lebih sering hadir dan berada di sisiku. Aku juga mengenalnya lebih lama daripada aku mengenalmu, namun bagaimana? Aku ingin menghubungimu Henry, aku sangat-sangat ingin menghubungimu.

Kau tahu betapa putus asanya diriku? Ketika aku menghubungi nomor ponselmu mengapa operator yang menjawabku? Mengapa tak satupun pesan yang aku kirim ke surat elektronik dan akun facebook milikmu tidak kau balas? Sesibuk apakah dirimu di sana? Apa di sana kau tidak memiliki waktu untuk membuka akun jejaring sosialmu? Sebenarnya kau itu nyata atau tidak Henry? Aku bahkan ragu kau pernah ada di sampingku..

Henry, tidak ada seseorangpun yang ingin diacuhkan. Tidak ada seseorangpun yang akan tetap bersikap tidak perduli bila ada seseorang yang terus memperhatikannya. Aku gadis normal, aku tidak akan munafik kalau aku merasa nyaman dengan Kyuhyun. Maafkan aku, maafkan aku Henry. Mungkin bila nanti Kyuhyun menyatakan cintanya padaku, dan aku telah pada ambang batas kemampuanku maka aku akan mundur.. izinkan aku untuk mengakhiri hubungan ini, kau pasti bisa menemukan seseorang yang lain di sana.

.

..

“Kyuhyun itu kekasihmu?” baiklah, Gracia telah menanyakan pertanyaan ini berkali-kali padaku semenjak kedatangan Kyuhyun. “Apa yang membuatmu berfikiran seperti itu?” tanyaku balik. “Kau tidak pernah menjawabnya dengan jelas, jawab ‘iya’ atau ‘tidak’ itu apa susahnya sih? Well kalian terlihat sangat dekat, dan akhir-akhir ini kau jarang sekali terlihat sedih karena memikirkan kekasihmu yang tidak pernah kau sebutkan namanya itu.”

Gracia memang benar, aku selalu menceritakan betapa bersedihnya aku ketika Henry tidak pernah menghubungiku. Tetapi aku tidak pernah menceritakan siapa nama kekasihku itu, aku tidak pernah menyebutkan kalau nama kekasihku adalah ‘Henry Lau’ aneh memang, namun menurutku untuk apa juga aku harus mengumbar-umbar nama kekasihku yang belum tentu semua orang juga mengenalnya kan? Ia mengenal Kyuhyun juga karena setiap saat ketika Kyuhyun datang ke kampus ini untuk menjemputku Gracia selalu bertanya ‘siapa itu?’dan pertanyaan lain yang sejenis.

“Kyuhyun itu sahabatku di Korea, aku mengenal Kyuhyun semenjak SD. Dan dia selalu dekat denganku.” Jawabku pada akhirnya. “What? So he is just your bestfriend?” Grahita terlihat terkejut. “Memang benar seperti itu, lalu memang mengapa?” Gracia menggeleng. “Tidak, tapi sepertinya kau lebih cocok untuk berpacaran dengannya.”

“Jangan berkata seperti itu, karena aku dan kekasihku sangat-sangat tidak dekat. Jauh berbeda dengan bersama Kyuhyun.” Gracia memutar bola matanya. “Oh, aku bahkan tidak membayangkan hubungan kalian itu.” Aku mencibir. “Aku.. aku takut untuk menyukai Kyuhyun melebihi batas wajar. Aku masih dalam status berpacaran.”

Bullshit, yang ada di dekatmu itu bukan lelaki jelek. Dia juga selalu ada untukmu kan selama beberapa waktu ini? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan memperdulikan status bodoh itu.” Giliran aku yang berusaha tidak perduli. “Baiklah, katakan saja apa yang kau mau Gracia hehe. Aku pulang dulu, sepertinya Kyuhyun telah menjemputku.”

***

Excuse me.” Gracia menoleh, ia memandang kaget ke arah sebuah mobil mewah berwarna putih yang terparkir di hadapannya. Namun ia segera mengalihkan mobil itu ke arah seseorang yang memanggilnya, orang itu berdiri tepat di samping mobil itu. “Me?” tanya Gracia.

“Ya, aku berbicara denganmu. Err, apa kau berasal dari fakultas Sastra? Apa kau mengenal anak-anak dari kelas Sastra Inggris?” tanya lelaki itu canggung. “Kebetulan aku berasal dari Sastra Inggris, aku memang mengenal beberapa. Namun, kalau boleh tahu kau mencari siapa ya?”

“Tidak apa kau mengenal HyeKyung? She’s Korean, dan tidak terlalu tinggi. Rambutnya sepunggung, kau mengenalnya?” tanya lelaki itu. “Hmm, kebetulan ia teman dekatku. Ada apa?” lelaki itu menggeleng. “Apa kau melihatnya? Bisa aku bertemu dengannya?”

“Tadi ia telah lebih dahulu pulang, bersama Kyuhyun.” Lelaki di hadapan Gracia itu mengernyitkan alisnya. “Kyuhyun? Oh, baiklah terima kasih.” Dan lelaki itu pergi meninggalkan Gracia yang terbengong, akhirnya Gracia memilih untuk pulang.

.

..

Kyuhyun dan HyeKyung menghabiskan sore hari di sebuah kedai ice cream, mereka berdua tertawa-tawa karena lelucon yang mereka lontarkan sendiri. HyeKyung memilih tempat duduk di pojok dan bersebelahan langsung dengan jendela kaca. “Mengenai pernyataanku waktu itu, aku tidak main-main.” Ucap Kyuhyun sambil menatap mata HyeKyung.

Mwoya? Pertanyaan yang mana?” tanya HyeKyung bingung. “Aku menyukaimu, dan aku tidak perduli bagaimanapun keadaanmu nantinya aku akan tetap menerimamu. Kumohon pertimbangkan hal ini.” HyeKyung menunduk. “K-kita adalah sahabat, kumohon jangan membahas hal ini. Ini bisa menghancurkan hubungan persahabatan kita Kyu, kau mengerti kan?”

“Jangan jadikan itu sebagai alasan, aku tahu kau tidak mungkin memutuskan kekasihmu bukan? Apa masih ada yang bisa kau harapkan dari dia?” ketus Kyuhyun. “Bukankah aku telah meminta padamu untuk tidak membahasnya? Kau hadir untuk menghibur dan menemaniku bukan? Bagaimana aku bisa bahagia kalau kau terus membahas tentang Henry? Let it flows, lebih baik kita menghabiskan waktu dengan bersenang-senang saja.”

“Bagaimana aku bisa menghiburmu kalau kau melukaiku? Kau fikir aku tidak terluka? Penantianku padamu dimulai semenjak kita masih sekolah dasar, namun kau tidak pernah peka akan perasaanku. Dan lelaki itu baru kau kenal beberapa tahun saja, namun dengan cepat ia menggeser posisiku. Apa aku tidak pernah terlihat sebagai seseorang yang lebih dari teman di hadapanmu?”

“Kyu, bukan seperti itu. Posisimu di hatiku tidak pernah digantikan oleh siapapun, bagiku kau bukan hanya sekedar teman. kau terlalu istimewa, sehingga bila aku mencintaimu nanti itu akan mustahil untuk mengubah pandanganku padamu. Kau lebih dari teman namun aku tidak dapat mencintaimu, meski telah kucoba. Tapi percayalah Kyu, kau yang membuatku selalu bisa nyaman dan kau bisa menghiburku dari semua masalahku. Bersamamu aku tidak harus berpura-pura menjadi wanita kuat, karena kau bagai sebuah landasan yang siap selalu menampungku bila aku akan terjatuh. Bersamamu aku bisa menjadi diriku sendiri, namun semua ini aku percaya bukanlah cinta. Dan kurasa perasaan yang kumiliki untukmu ini lebih dari cinta, terlalu istimewa sampai aku tidak dapat menggambarkannya. Cinta itu bisa putus Kyu, tapi perasaanku terhadapmu membuatku ragu apa aku bisa berubah. Karena itu, aku mengucapkan terima kasih sekaligus maaf kepadamu.”

“A-aku akan tetap berusaha sampai kau menatapku sebagai orang yang kau cintai.” HyeKyung memandang Kyuhyun dengan sendu. “Kyu mianhae, jangan berharap padaku. Aku tidak sebaik yang kau..”

e-electric! Electric shock! E-e-e-electrick.. electrick shock!!

HyeKyung menghentikan ucapannya dan merogoh ponselnya di dalam tas, sebuah nomor yang tidak ia kenal. Kemudian ia menyentuh layar ponselnya dan menjawab panggilan di ponsel itu. “Hello?” karena itu adalah nomor Inggris jadi kemungkinan yang menghubunginya adalah orang Inggris juga. “Apa kau merindukanku?”

“H-Henry??!!” pekik HyeKyung, ia langsung mengenali suara itu dalam detik pertama. Suara yang ia rindukan, suara yang telah lama sekali tidak ia dengar. Dan nomor Inggris? Apa Henry ada di Inggris saat ini?

Batin HyeKyung melontarkan banyak spekulasi-spekulasi yang mungkin terjadi. “HyeKyung-ah, jawab aku.” HyeKyung membatu, ponsel itu masih menempel di telinganya. Banyak hal yang ingin ia sampaikan untuk Henry, namun kata-kata itu masih tertahan di tenggorokannya.

Entah apa yang membuatnya seperti ini, ia menangis. Setetes air mata jatuh di pipinya, HyeKyung menghapus air mata itu. “A-aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu..” jawab HyeKyung pada akhirnya.

Srek!

Kyuhyun menarik ponsel itu, HyeKyung terkejut. “Kyu, ponselku?” Kyuhyun menatap HyeKyung dengan tajam, lalu mengalihkan pandangan itu dan berbicara ke ponsel HyeKyung. “Kau, hadir terlalu lambat. Delapan bulan kau menghilang dan kau hadir seperti ini, pengecut. Berhenti menghubungi HyeKyungie!” setelah berkata seperti itu, Kyuhyun mengakhiri panggilan itu dengan searah. Lalu membuka flap ponsel HyeKyung dengan paksa dan menarik baterei ponsel gadis itu. “Kyu?” tanya HyeKyung was-was.

“Dia menghilang tanpa kabar, dan kau langsung menerima kehadirannya kembali tanpa marah sedikitpun? Kau gila! Kau memiliki harga diri yang tinggi, jangan menerimanya semudah ini. Lupakan panggilan ini dan anggap ia tidak pernah hadir.”

Plak!!

Kyuhyun meringis kecil merasakan tamparan di pipinya, HyeKyung berdiri dengan nafas yang tak teratur. Wajah gadis itu memerah menahan amarahnya kepada Kyuhyun, namun keduanya tidak mengeluarkan kata-kata apapun. “C-Cho Kyuhyun!! Kau.. apa yang kau lakukan? Kau tahu bagaimana aku merindukan Henry? Ia tidak menghubungiku berbulan-bulan dan kau dengan seenak hati mengakhiri panggilan darinya? Apa maumu? Kau tidak tahu betapa bahagianya aku ketika menerima panggilan darinya? Aku membencimu!!”

Setelah meluapkan segala amarahnya, HyeKyung keluar dari kedai itu. Ia berjalan cepat, Kyuhyun dengan segera mengejar gadis itu. Ponsel HyeKyung masih berada dalam genggaman Kyuhyun, dengan cepat lelaki itu mengejar langkah kaki HyeKyung.

Chankkaman!” teriak Kyuhyun. Lelaki itu segera menarik lengan HyeKyung dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Maafkan aku Kyungie, maafkan aku. Kau tahu aku melakukan ini karena aku menyayangimu, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi hal ini kembali..” Kyuhyun mengusap rambut HyeKyung dengan lembut. Ia mengeratkan pelukannya ke tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu.

HyeKyung melingkarkan tangannya di tubuh Kyuhyun, lalu menangis meluapkan kekesalannya. “Aku takut kehilangan ia lagi Kyu.. aku takut. Jarang sekali ia menghubungiku seperti ini, rasa rinduku telah sampai di batas. Kumohon mengerti perasaanku jangan pernah melakukan hal ini Kyu.” Kyuhyun mengangguk gamblang. “Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi, aku hanya tidak ingin kau bersedih. Kalau begitu, lebih baik aku mengantarmu ke rumahmu saja.” Mereka melepaskan pelukan, dan dengan berat hati HyeKyung melangkah ke mobil Kyuhyun.

TBC!

See you next chapter, RCL jusseyooo~

Categories: chaptered, Couple, fanfiction, General | Tags: , , , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “No One Else

  1. mel_vina

    Annyeong q reader bru… ^^

    Klo mnrt q Hyekung lbh cocok ma Kyu, abs masa gk prnh kontak sama sekali seh slm 8 bln itu. Jht bgt dh seh Henry ngegantungin perasaan Hyekung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: