Goodbye Dio Part 2

Author: @Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Goodbye Dio Part 2

Genre:  PG-13, Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!), a little angst.

Rating: Teen

 Cast:

  • Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)
  • Lee HyeKyung (OC)
  • Byun Baekhyun (Exo K Baekhyun)

Other cast:

  • Kim Jongin (Exo K Kai)
  • Oh Sehun (Exo K Sehun)
  • EXO K’s  Other Member (Chanyeol, Suho)
  • Lee Hyumin (Chanyeol’s GF)
  • f(x)’s Victoria Song Qian- SHINee’s Lee Jinki (HyeKyung’s Parent)
  • SM’s Member
  • Cari sendiri

Ps:       satu kalimat, saya sedang galau. Silahkan dibaca saja._.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

  1. fb: athiya almas
  2. wp: athiya064.wordpress.com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON’T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading ♥

“Selanjutnya penampilan penutup, juara bertahan kita! Lelaki tampan dengan suara yang sangat luar biasa, peserta dari SM high school! Do Kyungsoo!!” penonton langsung bersorak-sorak ketika nama itu disebutkan, siapa yang tidak mengenal Dio? Seperti kata pembawa acara tadi, Dio adalah juara bertahan yang hampir tidak pernah terkalahkan dalam konser tarik suara apapun.

Annyeonghasseyo, Do Kyungsoo imnida. Bangapta, aku akan menyanyikan lagu berjudul ‘Baby Don’t Cry’ milik EXO.” Suara Dio terdengar sangat lemah. “Kyungsoo-ssi, suara anda terdengar begitu lemah. Apa anda baik-baik saja? Dan wajah anda memucat? Kalau anda sakit lebih baik anda tidak mengikuti perlombaan ini saja. Jangan menyiksa diri anda sendiri.” Kata MC tersebut sembari memperhatikan wajah Dio.

Anni, nan gwaenchana.” Dio bersikeras, pembawa acara itu sempat cemas. Namun karena musik mulai mengalun ia segera turun dari panggung dan memberikan waktu bagi Dio untuk tampil. “Lagu ini kupersembahkan untuk kekasihku, Lee HyeKyung. Apapun yang terjadi nanti, kumohon jangan pernah menangis karena aku. Namun berbahagialah karena aku, karena.. aku mencintaimu terlalu dalam.” Ucap Dio ke microphone sesaat ketika musik awal lagu mulai berputar. Penonton bersorak, namun tidak dengan HyeKyung. Ia merasakan sesuatu yang.. berbeda?

Dan benar saja, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi pada Dio. Ia kerap kali menjauhkan microphone dari bibirnya. Kemudian memijat keningnya, kesimpulannya adalah penampilan Dio kali ini benar-benar kacau. Beberapa pendukung sekolah lain mencibir Dio, sementara penggemar Dio menatap was-was.

Namun tidak dengan Kyungie, ia masih menatap Dio dengan tatapan datar. Namun, sesungguhnya kekhawatiran yang ia rasakan lebih parah daripada para penggemar Dio. Dio tidak pernah tampil sejelek ini, Dio tidak pernah kehilangan nada tingginya, Dio tidak pernah tampil dalam kegugupan yang berlebih. Kecuali, Dio sedang mengalami sesuatu..

Dan sesuatu itu pasti bukan hal yang baik, ia harus tau apa yang terjadi dengan Dio!!

.

..

“Juara pertama perlombaan ini Baekhyun, hmm sudah kuduga karena ia yang paling bersinar hari ini. Namun hal yang menarik dari hari ini adalah bagaimana seorang Do Kyungsoo tidak menyabet satu penghargaan pun haha. Biarlah, seorang juara kan juga harus pernah berada di posisi terendah.” Tawa Suho cukup renyah, ia dan Chanyeol adalah teman dekat Baekhyun.

“Asal kau tau saja hyung, Baekhyun melakukannya dengan baik karena ia sedang jatuh cinta. Gadis itu seperti memberinya kekuatan.” Jawab Chanyeol, Baekhyun hanya tertawa kecil. “Oh ya? Siapa?” Chanyeol langsung bergidik, “Jangan membahasya, Baekhyun jatuh cinta pada orang yang salah. Bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan.. eh orangnya lewat!” kata Chanyeol yang langsung memelankan suaranya di akhir kalimat.

Ketiga lelaki tampan itu langsung mengikuti arah pandangan Chanyeol, seorang gadis dengan langkah tergesa dan wajah yang cukup cemas mendekati mereka. “Permisi, Baekhyun-ssi kau melihat Dio? Bukankah kalian sama-sama peserta? Setelah dari backstage apa kau melihat Dio pergi?” tanya HyeKyung –gadis itu- dengan wajah cemas. Chanyeol langsung menepuk pundak Baekhyun sambil mengulum senyum.

“Ah, maaf aku tidak melihatnya. Mungkin ia ke kamar mandi, karena aku dan kedua temanku tidak sempat berbincang padanya. Hmm, dan aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada Dio hari ini. sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tampil seperti ini. apa kau tau?”

“Tidak, dan terima kasih.” HyeKyung langsung berlari menuju kamar mandi, meninggalkan ketiga lelaki tadi yang masih terdiam di tengah lorong sepi itu. “Gadis itu? Kau jatuh cinta pada Lee HyeKyung? Ah kau gila Baekki.”

“Tidak, aku tidak gila. Dan kau tahu, neomu neomu joha! Ia mengenalku!” Baekhyun tersenyum lebar. “Itu karena tadi kau adalah peserta di sana, apalagi kau juara satu, jangan berlebihan begitu kau terlihat seperti baru saja memenangkan sebuah undian berhadiah Lamborghini.” Cibir Suho.

Hyung! Aish kau ini, ini bahkan lebih menarik dari Lamborghini manapun. Ah, dan satu lagi! Chanyeol, bukankah aku tadi bilang kalau aku menang maka aku dapat kesempatan untuk menjadi jodohnya suatu saat nanti?” Chanyeol hanya menggeleng-geleng, ia mencubit pipi Baekhyun kesal. “Dengar Baekki, kau-sudah-gila. Tapi tidak apa-apa akhirnya aku tahu kalau kau normal dan bisa jatuh cinta. Cuma bagaimanapun kau sudah tahu kan kalau HyeKyung bagaimana?” Baekhyun mengangguk, namun selepas itu ia hanya tersenyum sambil berjalan keluar dari universitas itu.

***

Dio mengusap bibirnya yang memutih dengan kasar, ia kemudian memperhatikan pantulan dirinya ke cermin yang ada di hadapannya. Cairan merah yang baru saja keluar dari mulutnya membekas di dagu dan juga punggung tangannya. Ia masih terengah-engah dan dadanya terasa sesak, seluruh tubuhnya terasa lemas.

“Kenapa kau harus kambuh pada saat yang tidak tepat? Kau membuatku tidak bisa menampilkan yang terbaik pada Kyungie.” Lagi-lagi Dio berbicara pada refleksi dirinya di cermin. Kemudian ia mencuci wajahnya dengan kasar, berusaha menyegarkan wajahnya dan menghilangkan bekas-bekas darah. Setelah merasa wajahnya lebih baik, ia langsung mengenakan topinya dan juga merapatkan hoodie nya.

Cklek!

Dio menoleh, Kyungie berdiri di ambang pintu kamar mandi tersebut. “Kyungie? Kenapa kau masuk? Ini kamar mandi pria.” Kata Dio yang terkaget, namun gadis itu tanpa menghiraukan  perkataan tersebut langsung berlari dan memeluk Dio.

W-wae geurae?” tanya Dio yang terkaget, Kyungie semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Dio. “Biarkan seperti ini.. biarkan aku seperti ini. Aku begitu khawatir padamu Dio, selama aku mengenalmu ini pertama kalinya kau dihujat di atas panggung, dan ini pertama kalinya juga kau tidak memenangkan sebuah penghargaan kan? Apa ada masalah? Kenapa kau tidak bercerita padaku?” tanya HyeKyung lembut.

“Untuk saat ini, tidak ada apa-apa.” Dio menenggelamkan wajahnya ke rambut cokelat Kyungie. Menghirup aroma shampoo yang Kyungie pakai, tangan kirinya ia gunakan untuk mengeratkan pelukan mereka, sementara tangan kanannya untuk membelai-belai rambut Kyungie. “Dio, ingat ada aku di sini. Kau tidak perlu berusaha untuk selalu jadi yang terbaik, aku akan menerimamu apa adanya. Kumohon, selama ini aku selalu bercerita padamu tentang masalah-masalahku, sekarang giliranmu untuk berbalik padaku. Berceritalah suatu saat nanti kepadaku, kau memilikiku, kau hanya perlu bersandar padaku.” Bisik Kyungie di pelukan mereka.

“Benarkah? Apa kau janji?” tanya Dio, Kyungie mengangguk dalam-dalam. “Maka tolong penuhi permintaanku, teruslah bahagia. Kau tidak butuh orang lain untuk menghapus segala lukamu, kau hanya butuh aku yang akan selalu ada di sisimu dan menghiburmu. Teruslah bahagia karena aku..”

.

..

Noona!” HyeKyung menoleh, menatap lelaki kurus yang berlari-lari mengejarnya. Lelaki itu diam sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah. HyeKyung masih menatap lelaki itu datar, sampai akhirnya lelaki yang lebih muda setahun darinya itu tersenyum. “Selamat pagi noona, dan ada hal yang ingin kubicarakan padamu dan Kai!”

“Sehun-ah, tapi kita harus masuk.” Balas HyeKyung datar. “Aish noona, sekali-sekali kau harus jadi seperti aku dan Kai. Jangan terus seperti Dio hyung, kalian ini serius sekali. Pagi ini guru-guru tidak hadir karena rapat, nanti juga pulang lebih awal kok. Ikut aku ya? Jebalyo..” Sehun menatap HyeKyung dengan pandangan wajah memelas seperti anak kecil. HyeKyung mendecakkan lidah, “Hah, baiklah. Asal kalau nanti kepala sekolah yang mulia Choi bertindak, kau yang harus bertanggung jawab! Arachi? Ah aku tidak mengerti mengapa anak kelas satu sudah bertindak seperti ini.” Gerutu HyeKyung, Sehun hanya terkikik dan menarikorang yang telah ia anggap noona sendiri itu ke dalam mobilnya.

“Wa! Sehun-ah! Kau belum cukup umur, aish bagaimana bisa kau mengemudikan sebuah mobil? Ya Tuhan, aku masih ingin hidup lebih lama dan juga menikah dengan Dio.” Sehun hanya mendengus nafas kesal mendengar gerutuan HyeKyung. “Aish noona, aku dan Dio hanya berbeda satu tahun dan kau baik-baik saja saat pergi bersamanya. Kau bahkan baik-baik saja pergi dengan Kai padahal umur kami hanya berbeda tiga bulan.”

“Ish, bocah kecil. Baiklah, awas nanti kalau aku kembali tidak dalam keadaan selamat!” ancam HyeKyung, maksudnya hanya bercanda. Dan Sehun yang memang tidak pernah menganggap omongan orang dengan serius hanya tertawa.

Cafe, 17th December

“Hai Kai.” Sapa HyeKyung, Kai yang meminum cappucino hangatnya hanya tersenyum. Kai adalah tetangga HyeKyung, ia mengenal HyeKyung dari kecil dan dulu mereka cukup dekat. Sebenarnya Kai seumuran dengan Sehun, hanya ia loncat kelas sehingga jadi seangkatan bahkan sekelas dengan Dio dan HyeKyung. Karena ia tidak suka dianggap lebih muda, ia tidak pernah memanggil Dio dan HyeKyung dengan sebutan hyung/noona. Dan di club dance, ia bersahabat baik dengan Sehun. Namun entah mengapa awal pertemuan Kai dan Dio mereka bersikap sangat canggung, bahkan Kai kerapkali memasang wajah curiga.

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka membaik bahkan mereka berempat –termasuk HyeKyung- bersahabat baik. “Jadi, kalian mau bicara apa?” tanya HyeKyung sambil menarik sebuah kursi kemudian duduk di sebelah Sehun dan di hadapan Kai. “Ini mengenai Dio.” Jawab Kai pelan. “Baguslah, apa kalian tau ada apa dengannya? Ia sama sekali tidak mau bercerita padaku. Itu membuatku khawatir, terlalu khawatir..”

“Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, namun kemarin sehari setelah lomba aku menemukan Dio hyung sesak nafas dan hampir tidak sadarkan diri di dalam toilet. Wajahnya memucat, badannya begitu dingin. Aku dan Kai langsung membopongnya ke UKS, kami meninggalkannya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Namun saat pulang sekolah Dio telah pergi, tanpa meninggalkan kabar apapun pada kami. Pagi ini ia juga absen, dan saat kami menghubungi ponselnya pagi ini ponselnya tidak aktif. Apa kau tahu sesuatu?”

“Hah? Kenapa kalian tidak langsung menghubungiku?? Sesak nafas? Sejujurnya setelah perlombaan aku memeluk Dio yang sedang berdiam di kamar mandi. Dan aku berani bersumpah aku mencium bau darah namun aku tidak berani menanyakannya. Kenapa dengannya? Apa yang ia sembunyikan dari kita?” tanya HyeKyung panik, Kai hanya memberi pandangan yang seolah-olah mengatakan agar HyeKyung tenang.

“Aku dan Sehun masih berusaha mencari tau tentang apa yang terjadi dengannya, dan kau sebagai kekasihnya aku mohon untuk lebih berusaha lagi. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengannya, apa yang terjadi dengan Dio?” kata Kai dengan suara lirih, HyeKyung merasa kedua matanya memanas. Ia hampir saja menjatuhkan cairan-cairan bening dari kedua matanya.

“Baiklah, aku akan mencari tahu apa yang terjadi pada Dio.”

.

..

“Dio, aku ke rumahmu sekarang. Apa kau ada di rumah?” aku menghubungi ponsel Dio. “Tidak, kau ke rumahku saja. Aku akan menyusul, saat ini aku sedang berada di rumah guruku.” Oh, tumben sekali Dio bermain. “Baiklah, aku tunggu di rumahmu. Jangan terlalu lama, dan hati-hati di jalan.”

Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan taksi, aku sampai ke rumah Dio. Aku memang memegang duplikat kunci rumah Dio, karena rumah itu hanya dihuni Dio sendirian dan aku sering sekali bermain kerumahnya.

Dengan hati-hati aku masuk ke dalam kamar Dio, siapa tahu ada hal yang tertinggal di dalam kamarnya. Dan harus kuakui kamar Dio sangat-sangat rapi dan bahkan lebih rapi dari kamar gadis pada umumnya.

“Apa yang sedang kau tutup-tutupi Dio?” aku tidak akan mempersalahkan bila Dio akan emnutupi kalau ia berhubungan dengan mantannya lagi, atau saat ini ia sedang melakukan kriminalitas. Aku akan tetap menerima Dio apa adanya, namun saat ini ia menyembunyikan sesuatu yang melukainya pelan-pelan. Aku harus tahu ada apa dengannya..

Aku membuka album foto Dio, foto dari jaman ia kecil dan tinggal di Amerika. Ternyata ia sering sekali bernyanyi, namun baru mendapat penghargaan saat SMP. Saat ini, aku seperti merasa aku harus melindungi lelaki ini, aku harus mendekapnya agar ia tak jatuh dan terluka. Melihat foto masa kecil Dio, seakan melihat Dio yang sebenarnya.. Dio yang rapuh, Dio yang kesepian, Dio yang mungkin hanya berpura-pura bisa melalui segalanya dengan hati yang tabah karena aku, padahal aku tau ia tidak sekuat itu.

Memikirkan hal ini, membuat sesuatu dalam diriku terluka. Kau kenapa Dio? Kau kenapa? Tolong beritahu aku.. tolong jangan menanggung bebanmu seorang diri.. Mungkin ini bukan saatnya aku untuk mengetahui segalanya, namun aku akan tetap menunggu.

Aku akhirnya bangkit dari tempat aku duduk tadi, dan meletakkan album foto Dio di rak yang tersedia di meja belajarnya.

Brakk!

Ah, ceroboh sekali kau Lee HyeKyung! Kau menjatuhkan tempat sampah di kamar Dio, aku harus merapikannya. Dio kan cinta kebersihan, bisa-bisa ia mengamuk, atau bahkan hanya sekedar tahu kalau aku mengobrak-abrik kamarnya.

Aku berjongkok dan membenahi sampah yang kujatuhkan, isinya tidak terlalu banyak dan juga bukan sampah kotor. Hanya gulungan kertas, tissu bekas.. darah? Aku mengernyit saat mendapati sebuah tissu yang diujungnya berbekas setetes darah. Berarti, waktu itu aku mencium bau darah aku tidak berbohong?

Dan astaga, banyak sekali bungkus obat yang telah habis. Kuperhatikan satu-persatu obat-obat tersebut, namun aku tidak mengetahui obat apa tersebut. Itu seperti racikan dokter, hanya ada satu obat yang kukenali. Dan obat itu adalah, obat penghilang rasa sakit..? ‘Untuk apa Dio mengonsumsi obat semacam ini?’

‘Dan juga, banyak sekali kertas nota dan resep obat seperti dari apotek?’ dan nota ini tidak satupun yang ditulis dalam hangeul, malah kebanyakan berbahasa Inggris? ‘Aku harus mencari tahu tentang nota dan resep ini.’ Batinku, kemudian aku memasukkan nota dan resep-resep tersebut ke dalam tas yang kubawa. Dan dengan segera aku merapikan kembali sampah yang tadi kujatuhkan.

.

..

Aku baru saja pulang dari rumah Dio tiga jam yang lalu, kami tadi tidak banyak berbicara. Hanya aku merasakan pandangan Dio yang sedikit aneh, ia terlalu fokus menatapku.. atau bila ia tidak menatap lurus ke arahku, ia akan menatap kosong pada objek yang tidak jelas. Seakan pandangannya tidak terbatas menembus cakrawala.

Saat ini aku sedang duduk di meja kamarku, tadi kusempatkan untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Harapanku, agar segela fikiran burukku tentang Dio terhapuskan. Setelah mencari di google tentang alamat yang tertulis di atas lembar nota yang tadi kuambil. Ternyata rumah sakit ini berada di salah satu daerah di California, tempat paman Dio dan kakak Dio tinggal. Dan dari cerita Dio, sewaktu kecil ia juga tinggal di sana.

Aku membolak-balik kertas nota tersebut, apakah ini saat yang tepat untuk aku menghubungi rumah sakit itu? Tapi kurasa mungkin tidak sekarang untuk menghubungi rumah sakit ini.

Machi amugeotdo moreuneun airo geureoke~ Dasi taeeonan sungan gachi

Ringtone ponselku berbunyi, siapa yang menghubungiku petang begini? Aku meraih ponsel yang kuletakkan di laci, dan mengusap layar. Nama ‘Lovely Dio <3’ muncul di LCD ponselku, tepat sekali.. ketika aku memikirkannya dan ia menghubungiku.

Yeobboseyyo?” tanyaku. “Kyungie chagi, aku mau berpamitan padamu. Maaf untuk sangat mendadak, hari ini aku harus segera ke Amerika untuk menemui paman. Paman terkena serangan jantung tadi, aku harus sampai ke sana sesegera mungkin.”

“Oh, gwaenchana.. hati-hati, dan jangan lupa jaga kesehatanmu. Jangan lupa makan, aku tidak ingin melihatmu sakit kalau kembali nanti. Dan jangan lupa, nanti ada festival yang harus kau ikuti sehari sesudah Natal kan?” ‘sebenarnya bukan gara-gara festival itu, aku takut kau sakit dan aku tidak mengetahuinya’ batinku berbicara. “Hmm, arasseo. Tapi belum-belum aku sudah merindukanmu, kau tahu semenjak festival terakhir hubungan kita seperti agak canggung. Maafkan aku ya, aku merasa bersalah karena tidak menang di festival itu. Aku tampil memalukan di hadapanmu hihihi.”

“Aish, kenapa masih kau fikirkan? Menang atau tidak itu sudah biasa, aku juga merindukanmu yang kadang-kadang cerewet hehe.” Candaku, tawa renyah Dio langsung terdengar di balik sambungan telepon. “Aku juga merindukanmu yang suka sekali cemberut, bibirmu yang mengerucut terlihat sangat lucu. Apa saat ini kau sedang sendirian? Ingat pesanku, kau masih memiliki orangtua. Manfaatkan waktumu dengan mereka sebaik mungkin, karena saat ini intensitas pertemuan kalian sangat sedikit kau harus mengatur cara agar kembali dekat dengan mereka. Orangtuamu pasti akan merindukanmu, jika mereka tidak berubah maka kau yang harus pertama kali berubah. Kau mengerti kan pesanku?”

“Akan kucoba, aku juga sangat merindukan kasih sayang mereka. Gumawo baby, dan mengapa kau berkata seperti ini? Seperti kau akan pergi lama saja hehe, kapan kau kembali?” tanyaku. “Mungkin lima hari lagi, jaga diri baik-baik ya selama aku pergi. Dan.. boleh aku akhiri panggilan ini? Pesawatku sudah akan berangkat.”

“Silahkan, hati-hati.” Aku tersenyum, namun mengapa ada sesuatu yang menyesakkan di dalam hatiku, bahkan saat ini aku ingin menangis mendengar suara Dio. “Thanks Kyungie, and.. i love you.”

Love you too.” Kemudian sambungan terputus, aku memegang dadaku. Sesak sekali, rasa rindu dan takut kehilangan menyeruak secara tiba-tiba di dadaku. Aku sampai tidak bisa membedakan perasaanku saat ini, Dio..

***

Besok Dio pulang! Yeay! Aku sudah merindukannya, hingga rasa rinduku sampai ke ubun-ubun, hehe mungkin berlebihan. Dan hari ini melelahkan sekali, kami satu sekolah harus membersihkan kelas dan menghias kelas karena sekolah kami akan kedatangan pejabat dari luar negeri. Selalu seperti ini, menyusahkan saja!

Aku menatap pantulan diriku di cermin kamar mandi, -karena kecapaian aku memutuskan untuk mencuci wajah di kamar mandi.- setelah beberapa saat aku memutuskan keluar dan kembali ke kelasku.

“HyeKyung! Kau dari mana?” aku terkejut saat mendapati Minyoon setengah berteriak ke arahku, ia menghentikan aksinya menghapus papan tulis. “Eh, dari kamar mandi. Kenapa?” tanyaku bingung. “Segera temui Kai dan Sehun di taman, mereka tadi berteriak-teriak heboh mencarimu. Sepertinya ada masalah yang begitu penting, palli palli!

M-mwo? Baiklah.”

Aku langsung berlari menuju taman sekolah, sial baru kali ini aku menyesali mengapa sekolahku berukuran cukup besar. Setelah cukup lama berlari aku langsung mencari Kai dan Sehun, ternyata mereka berdua sedang duduk di kursi taman.

Wae geurae?” tanyaku, kulihat wajah Kai yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan Sehun terlihat hampir.. menangis? “Ya! Aku tanya ada apa?” tanyaku, karena mereka tidak menjawabku. Kai dengan wajah dingin meski tidak dapat menutupi ekspresi sendu dari wajahnya menyerahkan sebuah map padaku.

Dengan tidak sabar aku membuka map tersebut, saat melihat kop surat di atas kertas itu, alamat yang ditunjukkan adalah alamat yang sama dengan nota dan resep obat yang kutemukan kemarin?

Name: Do Kyungsoo

Blood Cancer (Leukimia)

Stage of disease: 3rd stage

I-ige mwoya?” aku bertanya, meski aku mengetahui dengan jelas maksud kertas di dalam map itu. “Aku tadi mendapat tugas untuk membersihkan loker, dan aku menemukan map tersebut di bawah partiture lagu Dio. Saat aku akan menemuimu dan memberitahu tentang ini aku tidak menemukanmu, kemudian aku berlari ke kelas Sehun.”

Dan detik itu juga, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.. aku tidak tahu, apa aku harus pingsan? Menangis? Atau bahkan menjerit-jerit? Yang aku tahu bahwa, rasa takut kehilanganku semakin besar. Dan ternyata selama ini perkiraan kami benar, Dio menyembunyikan sesuatu dan sesuatu itu bukan hanya buruk, tetapi sesuatu itu akan merenggutnya. Sesuatu yang bisa mengambilnya dengan cepat dari dunia ini.

“Dio.. Dio hiks!” akhirnya aku tahu, aku hanya bisa menangis. Aku tidak bisa berlaku apa-apa lagi padanya, aku tidak bisa. Bahkan aku tidak bisa sekedar memeluknya untuk membuktikan bahwa ia tidak akan pergi, karena saat ini ia masih berada di Amerika. Dio, jangan pergi secepat ini.. kumohon kembalilah Dio..

Noona~” Sehun memelukku, dan aku langsung menumpahkan air mataku di dada kurusnya. “Sehun-ah, Sehun-ah.. katakan padaku ini tidak nyata kan?” Sehun hanya mendekapku, ia tidak bisa menjawab. Kami hanya bisa terdiam, karena baik aku, Sehun, maupun Kai sama sekali tidak mengerti jawaban yang tepat atas pertanyaanku. Hanya Tuhan yang tau..

TBC!!

Nangis yuk ;-; hueee ma baby baby babe babyyy DIO T.T wkwkwkwk. RCL jusseyoJ

Categories: chaptered, Couple, fanfiction, General, Uncategorized | Tags: , , , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Goodbye Dio Part 2

  1. di tunggu klnjutannya ya!!

  2. anyyeong thor,, aku new reader..
    sumpah nyesek baca ini… keren!!
    lanjutannya buruan dong…🙂
    Gomawo😀

  3. Kyujii

    Kpan yg ke-3 muncul? Ini udah terlalu lama o,o

  4. Kyujii

    Kpan yg ke-3 muncul? Ini
    udah terlalu lama o,o

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: