[GenderSwitch] Trust Me, I’m Sorry

Author: @Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Trust Me, I’m Sorry

Genre:  GenderSwitch,  Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

 Cast:

  • Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)
  • Kim Jongin (Exo K Kai)

Other cast:

  • EXO K’s  Other Member
  • SM’s Member
  • Cari sendiri

Ps:         KAISOOO LOPELOPE walau saya harus pusing, kenapa KaiSoo -_- kenapa harus bangKai wkwk.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

  1. fb: athiya almas
  2. wp: athiya064.wordpress.com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON’T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading ♥

“ –Soo, Kyungsoo.” Gadis dengan kulit seputih susu, itu mendongakkan wajahnya. Sejenak ia mengalihkan dirinya dari komputer tablet yang sedari tadi ia mainkan. “Wae?” tanyanya bingung. “Well, aku bahkan sudah memanggilmu empat kali dan kau baru bertanya mengapa? Kalau kau bukan adik kelas kesayanganku mungkin sudah kupukul kau dengan gitar Lay.” Gerutu gadis dengan pipi chubby  di hadapan Kyungsoo. Kyungsoo hanya nyengir kaku.

Mian jiejie, aku fokus pada ini.” Ia mengangkat komputer tabletnya tinggi-tinggi, “Ck, kutu buku.” Gadis tembam itu, Xiumin namanya. Sebenarnya ia orang Korea hanya saja ia sempat tinggal di China beberapa tahun. Xiumin duduk di samping Kyungsoo, Kyungsoo kembali fokus membaca.

Kyungsoo, gadis tahun kedua di SM high school. Sangat suka membaca, bernyanyi, cerdas dan rapi. Karena berulangkali ditegur sahabat-sahabatnya agar tidak membawa buku setebal bantal ke sekolah, ia memutuskan untuk memanfaatkan program e-book dan menggunakan gadget miliknya.

“Huh, sebentar lagi ujian akhir. Nanti kalau aku lulus, aku akan pisah dengan Chen.” Xiumin menggembungkan pipinya, ia membayangkan harus berbeda sekolah dengan kekasihnya yang lebih muda satu tahun darinya itu. “Memang jiejie mau berkuliah di mana?” Xiumin mengangkat bahu. “Tidak tahu, Seoul atau Beijing. Aku galau, tapi aku lebih galau memikirkan Chen.”

“Chen kan sudah besar, satu tahun lagi Chen pasti lulus dan kuliah bersama jiejie.” Hibur Kyungsoo. “Semoga saja, ah lebih dari itu! Satu hal kalau aku lulus nanti, prom night!!” Kyungsoo hampir tersedak, ia lupa dengan acara malam perpisahan anak-anak kelas akhir tersebut.

Jiejie! Aish, kenapa kau mengingatkanku dengan malam menyebalkan itu? Jiejie tahu, aku wajib ikut karena aku salah satu pengurus organisasi. Waktu kelas satu dulu aku sudah tidak mengikutinya karena berlibur, dan tahun ini aku wajib ikut. Aku harus ke sana dengan siapa?” Kyungsoo panik, Xiumin paham Kyungsoo adalah gadis dengan pengalaman cinta yang sangat buruk.

“Kenapa kau tidak pergi dengan Suho? Teman sekelasku, kalian dekat kan?” Kyungsoo memutar bola matanya. “Jie, aku dan Suho sunbae itu hanya teman. Lagipula aku tidak mau membuat Lay jiejie cemburu, Lay jiejie kan sangat baik padaku.” Kyungsoo tahu, meski belum berpacaran Lay dan Suho saling menyukai. Karena ia dekat dengan dua orang itu, mereka tak kunjung jadian karena masih bimbang dengan perasaan masing-masing.

“Lalu? Pergi saja dengan yang lain, kau cantik pasti tidak ada yang menolakmu.” Saran Xiumin, “Tidak, mana bisa begitu? Prom night harus dilewati bersama kekasih.” Jawab Kyungsoo polos. “Ah, kau benar-benar tidak berbakat dalam urusan hal seperti ini. Ini bukan zaman kolosal lagi Kyungsoo.”

“Memang prom night sudah ada di zaman kolosal?” Xiumin menghembus nafas keras. “Kyungie chagi, sejak kapan kau jadi bodoh seperti ini?”

***

“Aku pulang!” teriak Kyungsoo nyaring. “Noona, sudah makan? Mau makan bersama?” tawar Sehun, adik angkat Kyungsoo. “Hmm boleh, kita keluar ya?”

Sehun menyetir mobil mereka ke sebuah restauran terkenal, sudah lama ia dan kakaknya tidak akur seperti dulu. Setelah masuk, mereka memilih tempat yang cukup nyaman untuk berdua. “Noona, ada masalah?” tanya Sehun. “Hah? Tergambar jelas ya di wajahku?”

“Sangat.” Jawab Sehun dengan wajah datarnya. “Huh, sebenarnya noona harus ikut prom night gara-gara menjadi anggota organisasi. Kau tahu sendiri noona bahkan belum pernah jatuh cinta.” Sehun terkekeh. “Apa noona mau pergi denganku?” tawar Sehun. Ia tahu adiknya tulus, bahkan sangat perduli dengannya. Apalagi adiknya itu tampan, pandai menari, juga sangat pandai dalam aegyo. Tapi tetap saja Sehun itu adiknya.

“Tidak Hun-ah, walaupun kau mungkin jadi Dancing King esok aku tidak mau pergi denganmu. Kau kan harus pergi menemani Luhan jiejie, ia pasti kecewa kalau kau memilih kakakmu. Lagipula itu malam terakhir Luhan jie lho di sekolah.” Sehun mengulum senyum malu. “Arasseo, sebenarnya aku juga agak bimbang. Aku tidak tega harus melihat Luhan jie bersedih nanti.” Lu Han adalah nama kekasih Sehun, lebih tua namun memiliki wajah yang bahkan terlihat lebih muda daripada Sehun dan Kyungsoo.

“Kalau begitu noona mau pergi bersama siapa?” Kyungsoo menggeleng. “Entahlah, mungkin aku harus beralasan sakit atau mungkin sekedar datang tanpa harus ikut berdansa.” Jawab Kyungsoo pasrah, Sehun menepuk pundak kakaknya. “Aku kan punya banyak teman, nanti aku kenalkan deh ke noona.

“Jangan! Bisa-bisa temanmu lebih evil dan mengerikan darimu. Tidak-tidak!” jerit Kyungsoo panik, ingin rasanya Sehun membekap mulut kakaknya itu. “Noona, calm down! Kau ini, memalukan sekali berteriak tidak jelas.”

“Hehe, maaf Sehun-ah. Baiklah, ayo kita pulang. Kita harus belajar untuk ujian akhir dan lupakan tentang malam dansa yang bodoh itu.”

***

Hari ini, aku Do Kyungsoo secara resmi siap menanti liburan!! Huahahah, akhirnya ujian menyebalkan itu selesai juga. Tapi sialnya lagi hari ini aku harus tinggal di sekolah SEORANG DIRI! Ya, aku harus lembur menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku. Menyebalkan bukan?

Aku menatap suasana yang gelap di luar jendela perpustakaan, ini belum petang tetapi karena hujan mulai sering mengguyur mendung jadi makin sering menyelimuti kota Seoul. Aku masih menatap dan menggerakkan jari-jemariku di atas keyboard laptopku.

Cklek!

Aku menoleh menatap pintu yang terbuka, lelaki dengan postur tubuh tinggi dan ramping berdiri di ambang pintu. Pandangannya terlihat tidak fokus, ah entahlah mungkin ia kelelahan. Hei! Dia adik kelasku, aku tahu karena ia adalah salah satu sahabat Sehun. Kim Jongin namanya..

“Urgh, Jongin-ssi kau belum pulang?” tanyaku memecah keheningan di antara derasnya hujan. Ia tidak menjawab namun menutup pintu perpustakaan itu dengan sebelah tangannya, dan berjalan dengan lambat menuju ke arahku. Lambat-laun aku merasa jarak antara aku dan Jongin terlalu dekat, jantungku berdetak dengan cepat. ‘Tidak, ini tidak wajar!’ jeritku dalam hati. “J-Jongin-ssi!” teriakku.

Noona, hmm.. Kyunghh..soo. sudah lama aku menyukaimu hrh..” suara Jongin terputus-putus, saat ini ia hanya beberapa senti dari wajahku. Ia menghembuskan nafasnya, dan membuat bulu kudukku merinding. “Mwo? Menyukaiku? Jongin-ssi! Sadar, dan.. kau bau alkohol!” ia terkekeh. “Kau? Kau mabuk? Jongin! Kau mabuk, ya Tuhan kau sahabat adikku. Berhenti mendekat padaku! Jongin-ssi aku akan berteriak kalau kau masih saja hmmpphh..”

Sialan, bibir tebalnya itu sekarang melumat bibirku! Ciuman pertamaku, dilakukan dengan lelaki yang mabuk? Karena kehabisan nafas aku memukul-mukul dada Jongin. Akhirnya lelaki itu melepaskan ciuman kami, dan ia menjilat bibirku. “Kyungie, ayo kita ‘menghangatkan’ diri di tengah hujan ini.” Jongin meraih kerah seragamku, dan dengan sekali tarikan kancing-kancing kemeja seragamku berserakan. Reflek aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.

“Kim Jongin, sadarlah! Berhenti melakukan ini padaku! Aku kakak kelasmu, akan kulaporkan kau pada polisi! Aku bersumpah..” makiku bertubi-tubi, aku berusaha menghalau Jongin. Tapi mungkin karena aku wanita tenagaku tidak berarti apa-apa bagi Jongin.

Plak!!

Aku memegang pipiku, baru saja sahabat adikku Sehun menamparku! Seorang Kai atau Kim Jongin yang luar biasa dekat dengan keluargaku, yang sering menginap di rumah kami menamparku! Aku menatap wajah Kai dengan mata berkaca-kaca, wajah Kai memerah. “Diam! Atau aku akan mengasarimu.” Ia mengancam, dan aku hanya gadis lemah yang hanya mampu terdiam. Mau berteriak pun percuma, karena tidak ada orang lagi di sekolah sebesar ini. Aku menyesal menolak ajakan Xiumin jiejie untuk ikut berlatih Taekwondo bersamanya, akibatnya aku tidak bisa melindungi diriku sendiri.

Dan hari itu menjadi hari paling memilukan yang pernah kualami hingga saat ini, bagaimana memoriku merekam jelas segala tindakan Kai atas tubuh lemahku ini. Bagaimana aku hanya mampu menjerit dan tertekan di bawahnya, bagaimana tubuh telanjangku menyentuh lantai perpustakaan yang dingin, di bawah hembusan AC dan juga di tengah hujan deras. Perpustakaan dan sekolah yang sepi itu hanya menjadi bayang-bayang bisu atas aktivitas kami.

.

..

Air mataku seakan mengering, aku menatap nanar pada diriku sendiri. Aku kehilangan semuanya, aku kehilangan harga diriku karena lelaki ini! Seluruh persendianku seakan hampir remuk mengingat seberapa brutal Kai semalam, dan juga aku yakin tubuhku demam karena kedinginan sepanjang malam.

Aku tidak mampu berteriak atau menangis lagi, dengan cepat aku langsung memakai bajuku yang terkoyak. Untung kemarin aku memakai hoodie dan membawa celana training untuk olahraga, dengan cepat aku membenahi penampilanku yang mengenaskan. Aku memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas, dan merapatkan tudung hoodie yang kugunakan.

Dengan langkah terseok karena bagian bawah tubuhku yang terasa nyeri aku melangkah meninggalkan Kai yang ternyata masih tertidur di lantai perpustakaan ini. Aku berjalan dengan menunduk sepanjang koridor sekolah kami, bukankah kemarin aku sudah bilang libur panjang dimulai? Oleh karena itu sekolah kami sepi dan tidak ada yang datang, kalau ada seseorang yang memergoki kami entah bagaimana nasibku.

Untung gerbang sekolah selalu terbuka, dan dijaga oleh salah satu penjaga sekolah. Aku berjalan dengan pandangan kosong, tubuhku lemas, aku demam, memori buruk tadi malam masih tergambar sangat jelas di otakku. “Kyungsoo?” aku menoleh, itu Geum ahjussi penjaga sekolah kami. Aku hanya mengangguk tanpa menjawab apapun, kurasa Geum ahjussi bingung mengapa aku bisa keluar dari sekolah sepagi ini ketika hari libur?

Aku langsung menghentikan taksi yang lewat di depanku pertama kali.

***

Took! Took!!

“Tunggu~” tak berapa lama pintu rumah mewah berwarna cokelat itu terbuka lebar. Seorang lelaki dengan kulit putih pucat mematung kaget, beberapa saat kemudian tubuhnya baru bereaksi. “Noona! Noona gwaenchana? Noona wae geurae?” ia kaget mendapati kakak perempuannya yang paling ia sayangi dalam keadaan yang bisa dibilang ‘mengenaskan.’

Kyungsoo masih menatap kosong, sampai ia merasa tangan kurus Sehun yang lebih tinggi darinya memeluk tubuhnya erat. Mencoba menyalurkan rasa hangat dan aman pada gadis itu. “Noona, cerita kepadaku. Ada apa?” Sehun mengelus rambut Kyungsoo lembut. Tubuh Kyungsoo bergetar, air matanya akhirnya bisa mengalir lagi, Sehun makin mengeratkan pelukan pada kakaknya itu.

Sehun mengajak kakaknya masuk dan memberi air mineral pada gadis itu, Kyungsoo tidak menyentuh air itu. Tubuhnya masih demam dan menggigil dengan hebat, Sehun sampai membawa selimut bulu dari kamarnya untuk menyelimuti Kyungsoo. “Noona, kumohon ceritalah padaku. Mengapa semalam noona tidak pulang? Mengapa ponselmu tidak aktif? Kumohon cerita padaku, aku menunggumu hingga dini hari sampai aku tertidur di ruang tamu dan kau datang dengan keadaan seperti ini. Kumohon katakan sesuatu padaku..” pinta Sehun dengan wajah memelasnya.

Kyungsoo membuka hoodienya perlahan, Sehun membelalakkan matanya karena kaget. Seragam kakaknya terkoyak dan seluruh kancingnya terlepas, dan di leher kakaknya terdapat banyak bercak merah. ‘Seperti habis bercinta, tapi tunggu! Bercinta? Tidak mungkin! Apa jangan-jangan noona di-diperkosa? Astaga..’ batin Sehun berteriak karena terkejut.

“S-Sehun, noona tidak suci lagi. Hiks, noona kotor hiks.. hina, tidak berharga..” Kyungsoo membenamkan wajahnya ke lutut, badannya bergetar lagi. “NOONA! KATAKAN! KATAKAN SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU? KATAKAN PADAKU!! MALHAEBWA!!” jerit Sehun, ia akui kakak perempuannya ini cantik dan berkepribadian baik. Namun, siapa yang tega melakukan hal sekeji ini pada kakaknya yang bahkan belum pernah berpacaran sekalipun?

“A-aku tidak bisa, aku tidak bisa Sehun hiks..” lagi-lagi Kyungsoo hanya dapat terisak. Sehun memeluk kakaknya dengan lembut, berusaha menenangkan satu-satunya anggota keluarga yang begitu dekat padanya. “Sehun, noona mohon jangan katakan pada siapa-siapa, ara? Hiks, noona takut appa dan umma tau. Hiks, noona takut hamil.. noona belum siap.” Isak Kyungsoo. Ya, banyak hal mengganggu di fikirannya termasuk bagaimana kalau orangtuanya di Prancis sana tahu bahwa ia baru saja diperkosa?

‘Sial, lelaki bajingan itu tidak memakai pengaman.’ Geram Sehun dalam hati. “Tidak, aku akan menjaga rahasia ini. Aku akan melindungi noona sampai aku merasa tidak mampu lagi. Kita selesaikan masalah ini bila noona sudah merasa baikan, sebaiknya noona istirahat terlebih dahulu. Noona sakit, akan aku siapkan kompres dan bubur. Eh, batal buburnya aku pesan saja hehe.” Sehun mencoba bercanda, Kyungsoo menatap Sehun dengan sayu namun seulas senyum tersimpul di bibirnya. Kyungsoo tersenyum karena mengingat betapa buruknya Sehun dalam urusan dapur.

.

Noona, mianhae. Tapi boleh aku bertanya?” tanya Sehun sambil meletakkan handuk basah di atas dahi Kyungsoo agar meredakan demam kakaknya itu. “Mwohaeyo?” tanya Kyungsoo lemah. “Yang melakukan ini padamu, b-bukan orang jalanan kan?” tanya Sehun khawatir, ia takut kakaknya akan terkena penyakit bahaya. Kyungsoo menggeleng, “Anak kelas satu.” Sehun menaikkan sebelah alisnya.

“Kelas satu apa? Apa aku mengenalnya?” tanya Sehun kembali berapi-api, namun Kyungsoo memilih menutup mulut lagi. “Kau kenal.” Jawab Kyungsoo lirih. Sehun makin mengepalkan telapak tangannya. “Hun-ah, jangan bahas masalah ini sekarang. Noona lelah secara mental dan fisik.” Sehun mengangguk, mungkin lebih baik ia tidak mengungkitnya lagi.

.

..

“Berhenti!! Berhentiii!! Menjauuuhhhh!!” Kyungsoo berteriak kencang, keringat bercucuran dari dahinya, dan tubuhnya memberontak ke segala arah. “Sshh, noona ini aku Sehun. Tenang, aku bersamamu, aku melindungimu.” Sehun yang masih terjaga mengelus rambut hitam panjang Kyungsoo, Kyungsoo terbangun. Air mata meleleh dari mata indahnya, “S-Sehun, aku kira itu nyata.” Kyungsoo tercekat. “Tidak, aku akan bersama noona.” Hibur Sehun, dalam hati lelaki itu bersumpah tidak akan pernah memaafkan seseorang yang menyakiti noonanya itu.

***

Noona, aku akan menjemput Luhannie sebentar. Apa noona baik-baik saja di rumah sendiri?” tanya Sehun khawatir, Kyungsoo masih saja suka memandang dengan tatapan kosong, juga sering melamun atau menangis dengan tiba-tiba. Namun di hadapan Sehun, Kyungsoo selalu mencoba untuk kuat dan baik-baik saja. Liburan ini mereka habiskan di rumah saja, bahkan Sehun lebih sering mengajak Luhan untuk berkencan di rumah mereka daripada keluar. Sehun menceritakan semuanya pada Luhan, karena Luhan dan Kyungsoo cukup dekat gadis China itu sering menghibur dan menemani Kyungsoo.

Gwaenchana Sehunnie, kau dan Luhan jiejie kalau mau keluar, keluar saja.” Kyungsoo tersenyum. “Annio, katanya Luhannie ingin mengajak noona untuk membuat cake  di rumah.” Kyungsoo tersenyum. “Geurae, kalau begitu hati-hati Hunnie..”

.

..

Sudah sekitar dua puluh menit Sehun pergi, Kyungsoo duduk di atas sofa ruang tamunya. Ia mengetik beberapa tugas di laptopnya.

Ting! Tong!

Kyungsoo bangkit dan mengira Sehun dan Luhan telah tiba. Saat ia membuka pintu, matanya terbelalak. Secara reflek fikirannya memutar memori buruk yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. “J-Jongin..” sahut Kyungsoo lirih, ia menunduk. “Sehun keluar, mungkin kau harus kembali lagi nanti.” Kata Kyungsoo dengan cepat, kemudian ia menutup pintu rumahnya.

Kyungsoo sudah akan menutup pintu ketika sebelah kaki Kai menahan pintu itu, “Kyungie!” seru Kai, Kyungsoo terdiam lagi. “Kita harus bicara.” Kata Kai dengan tegas, Kyungsoo menggeleng. “Tidak ada yang perlu dibicarakan, anggap saja kejadian itu tidak terjadi. Kau mabuk Kai, aku memakluminya.” Ketika pintu itu akan ditutup lagi, Kai langsung menerobos masuk ke dalam rumah Kyungsoo.

Kai mendekati Kyungsoo sampai gadis itu terduduk di sofa ruang tamunya, Kyungsoo terdiam dan tubuhnya seakan kaku. “Kumohon pergilah Kai, aku tidak akan melaporkannya pada siapapun.” Pinta Kyungsoo dengan wajah memelasnya, air matanya hampir mengalir. “Tidak Kyungie, aku minta maaf. Kumohon maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Aku tidak bisa, kumohon pergilah agar aku melupakannya. Pergilah Kai..” pinta Kyungsoo lagi, tiba-tiba Kai mencengkram pundak Kyungsoo. “Dengar! Aku tidak akan pergi sampai kau memaafkanku, jangan melupakan masalah kemarin! Aku melakukannya karena aku.. karena aku cinta padamu.”

“LUPAKAN!! Kumohon pergi saja Kai, simpan saja kata-kata cintamu itu. Kau kira aku tidak tahu kau berpacaran? Lupakan kalau kau simpati padaku.” Kyungsoo mendorong dada Kai, namun Kai tidak mengindahkannya. Kai malah berusaha memeluk gadis itu, “PERGI! LEPASKANAKU!! BAJINGAN!! AKU BENCI PADAMU!!”

***

“Ah, Hun-ah. Kau selalu mengendarai mobil, padahal belum waktumu untuk mengendarainya.” Luhan menggerutu sambil menjitak dahi Sehun main-main, Sehun hanya tertawa. Chu~

“Ya! Apa-apaan kau?” Luhan memerah saat Sehun dengan tiba-tiba mencium bibirnya sekilas. “Hehe, habis kau lucu chagi.” Luhan mengerucutkan bibirnya kesal, kemudian gadis cantik dengan rambut pirang itu duduk di kursi di sebelah Sehun. Dan Sehun menjalankan mobilnya dengan kecepatan wajar.

“Hunnie, bagaimana keadaan Kyungsoo?” tanya Luhan, Sehun menghembus nafas. “Belum ada perkembangan yang signifikan. Seperti dulu noona bilang kalau pelakunya anak kelas satu, dan kau tau sendiri koneksiku luas. Aku sudah dibantu beberapa sahabatku, kecuali Kai karena entah kenapa anak itu sedikit lebih diam dari biasanya. Aku rasa pelakunya bukan anak kelasku, itu tidak mungkin terjadi.”

“Aku benar-benar merasa kasihan pada kakakmu. Dia bahkan lebih muda dari aku, ya Tuhan.. aku takut ia mengalami depresi. Kyungsoo adalah gadis yang ceria dan juga cerdas, aku takut kejadian ini merubahnya.” Kata Luhan, “Maka dari itu kau mau kan membantuku dan Kyungsoo noona? Kau mau bersedia sabar hingga Kyungsoo noona kembali seperti sedia kala?”

“Hmm, tentu saja. Bagaimanapun Kyungsoo juga orang yang dekat denganku.” Sehun mengacak rambut Luhan dengan sebelah tangannya. “Gumawo chagi, kau orang yang sangat baik dan pengertian.” Sehun tersenyum kecil. Ya, Sehun memang terkesan dingin dengan semua orang, apalagi wajah datarnya yang membuat ia terlihat sangat cuek dan sombong. Tetapi di balik semua itu tersimpan kelembutan dan kebaikan hatinya, apalagi terhadap empat orang paling berharga di hidupnya. Ayah dan ibu angkatnya, Kyungsoo, dan juga Luhan. Pada empat orang itulah Sehun bisa membuka diri dan juga menjadi berbeda dengan image yang selama ini ia perlihatkan.

Sebenarnya Sehun hanyalah seseorang yang tertutup, tinggal sebagai yatim piatu semenjak ia kecil dan tinggal di panti asuhan dengan pemilik yang kejam membuatnya harus bersikap tegar dan membuatnya kehilangan masa kecil yang menyenangkan. Ya, bukan mendapat perlindungan seperti yang ia harapkan, Sehun kecil malah dipekerjakan sebagai peminta-minta oleh pemilik panti asuhannya.

Flashback

Umma, appa?” Sehun menyipitkan mata saat ia baru bangun tidur, ia terkaget dengan suara berisik yang mengganggu tidurnya. “Sst..” Ibu Sehun menempelkan telunjuknya ke bibirnya, lalu mendekati ranjang tidur kecil dan sederhana tempat Sehun tidur. Sehun memasang wajah bingung, ibu Sehun menyerahkan tas ransel kecil. “Sehunnie, pergilah.” Bisik ibu Sehun dengan lirih.

Mwo? Waeyo? Kenapa kita harus pergi? Apa kita akan pergi bersama-sama?” ibu Sehun menggeleng, “Anniya, hanya kau. Pergilah sayang, ibu menyelamatkanmu. Di luar sana, Jang ahjussi sedang memaksa masuk ke rumah kita. Umma dan appa akan melindungimu, umma dan appa tidak mau kalau kau harus diambil oleh mereka. Karena mereka menagih hutang keluarga kita, Sehun rumah ini umma miliki karena uang mereka. Juga bagaimana sehari-hari kita makan dan menyekolahkanmu semua dari uang mereka. Tanggal pembayaran sudah lewat dan umma tidak mampu membayarnya, maka pergilah. Umma tidak mau kau disuruh untuk menjual diri di luar sana hiks..” isak ibu Sehun sambil buru-buru mengusap air mata.

“K-kenapa seperti itu? Lalu kenapa umma dan appa tidak kabur bersamaku?” ibu Sehun menggeleng. “Umma dan appa akan melindungi kepergianmu dan mengalihkan perhatian mereka. Keluarlah lewat jendela dapur, lalu pergilah sejauh-jauhnya ke arah selatan. Pergi jauh dari desa ini Sehun, setelah nanti kau sampai di kota baru beristirahatlah. Cari tempat sebaik-baiknya, gunakan uang yang umma selipkan di tasmu. Kalau memang masih bisa, umma dan appa akan menemuimu. Kita akan bertemu lagi.” Ibu Sehun memeluk tubuh putranya dengan hangat, Sehun menangis dalam dekapan wanita paruh baya tersebut.

Saranghaeyo, jeongmal saranghae chagiya. Sst, jangan menangis lagi. Anak umma tidak boleh menangis, Sehun.. nanti sekeras apapun rintangan yang kau hadapi kau harus kuat menghadapinya. Ara?” nyonya Oh mengusap air mata Sehun dengan lembut, lalu mengecup pucuk kepala Sehun dengan sayang. “Arasseo umma.

“Sehun, pergilah. Selamat jalan nak, cepat cari perlindungan jangan perdulikan kami lagi. Kau mengerti kan? Tetaplah jadi jagoan appa.” Suara berat ayah Sehun mengagetkan, tiba-tiba pintu rumah kecil mereka didobrak dengan keras. “Lari Sehun! Lari!” cicit ibu Sehun, Sehun segera membawa tasnya dan memakai sepatu bututnya. Lalu menuju dapur dan keluar melalui jendela dapurnya. Namun ia tidak segera berlari seperti perintah orangtuanya, ia bersembunyi di balik bak sampah yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuh kecilnya. Jantungnya berdegup kencang, dengan penuh kehati-hatian ia mengintip dari celah ke arah rumahnya.

Hatinya mencelos ketika ia melihat orangtuanya yang tidak sanggup membayar hutang atau menyerahkan dirinya sebagai jaminan dihajar habis-habisan. Bahkan Jang ahjussi mengarahkan pesuruhnya untuk menikam kedua orang yang sangat Sehun cintai tersebut. Komplotan kejam tersebut bergerak untuk mencari Sehun yang mereka rasa belum jauh pergi.

Sehun menahan air matanya yang hendak tumpah, ia membenamkan dirinya berusaha tidak terlihat sedikitpun. Dan beberapa saat kemudian ia bisa bernafas lega, komplotan tadi pergi sembari membawa mayat orangtuanya yang sama sekali tidak Sehun ketahui alasannya. Setelah itu, ia baru benar-benar berlari ke arah selatan hingga kakinya terasa pegal. Ia berlari sambil menangis, karena tidak mungkin bertemu orangtuanya lagi. Ia berlari hingga kakinya terasa lecet dan nafasnya tersengal-sengal, ia bahkan dehidrasi karena terlalu jauh berlari.

Sehun kembali bernafas lega, ia melihat jalan raya besar yang menjadi pembatas antara desanya dan kota. Saat ia hendak menyebrangi jalan raya itu, dunia terasa berputar dalam pandangan Sehun. Fajar sudah mulai menyingsing, dan sorot lampu kendaraan terasa menyilaukan bagi Sehun. Kemudian segalanya menjadi gelap..

.

..

“A-aku di mana?” ia terbangun dan mendapati ia sedang berbaring di tengah ruangan dengan dinding berwarna kuning. “Annyeong, akhirnya kau sadar juga. Boleh aku tahu siapa namamu?” Sehun mencoba bangkit, lalu bersandar pada dinding. “Choneun, Sehun imnida.” Jawab Sehun dengan wajah datarnya. “Mengapa kau bisa pingsan dipinggir jalan? Untung saja aku melihatmu. Ya Tuhan kau pucat sekali, kau harus makan. Ryemi! Ryemi! Ambilkan makanan untuk anak baru ini!” Sehun menautkan alis, ‘Anak baru?’ batinnya.

Tiba-tiba datang seorang gadis kecil yang Sehun yakin gadis itu lebih muda darinya. Anak itu berpakaian seadanya dan tubuhnya terlihat kotor. Sehun masih bingung ia sedang berada di mana, ia mengedarkan pandangannya sampai akhirnya ia menemukan plakat dengan tulisan berhuruf hangeul.

‘PANTI ASUHAN Do Re Mi’

Sehun terkaget, tidak menyangka ia berada di panti asuhan. Namun setidaknya ia mungkin bisa bernaung di tempat ini bukan? “Nah Sehun, kau makan dulu ya.” Sehun menerima sepiring makanan dengan lauk seadanya. Namun karena ia benar-benar kelaparan ia tidak mungkin menolak hidangan itu. Ia makan dengan lahap dan cepat, tubuhnya benar-benar lemas setelah berlari hampir semalaman.

“Apa kau sebatang kara?” Sehun mengangguk cepat. “Kalau begitu kau bisa tinggal di sini, dengan wajah tampanmu kurasa menguntungkan. Ah lupakan saja.” Wanita yang lebih tua dari almarhum ibu Sehun tersenyum, namun Sehun yakin itu bukan senyum yang tulus. “Maksud anda?” tanya Sehun. “Tidak, hanya saja semua kebaikan itu harus ada balasannya. Sudah jangan dipikirkan karena ini hari pertamamu, kau istirahatlah dulu sampai sembuh.” Wanita itu berbalik dan Sehun tidak dapat melihat seringaiannya yang mengerikan.

.

..

“Ryemi tunggu!” gadis yang tadi penampilannya lusuh dan mengantarkan makanan untuk Sehun menoleh. “Waeyo oppa?” tanya Ryemi. “Benar ini panti asuhan?” Ryemi mengangguk. “Mengapa aku tidak melihat orang lain selain kau?” Ryemi hanya memberikan pandangan miris. “Mereka sedang ‘bertugas’ oppa.” Sehun yang tidak mengerti bertugas dalam artian Ryemi hanya mengira penghuni yang lain sedang kerja bakti atau semacamnya.

Oppa, kau harus kuat ya. Meski mungkin tidak seindah bayanganmu, anak-anak di sini baik kok. Mereka sangat ramah meski terhadap orang baru, oppa lihat saja kami jangan lihat apa yang bakal kau jalani.” Setelah berkata begitu Ryemi segera pergi dari tempat Sehun yang masih mematung tidak mengerti maksudnya.

***

Ternyata benar anak-anak panti asuhan tersebut sangat ramah, namun kenyataan yang berbanding terbalik dengan pemilik panti asuhan yang kemarin berpura-pura bersikap lembut menyambut Sehun. Sehun merasakan kerasnya hidup, ia diminta menjadi pengemis dan bahkan terkadang harus menjadi seorang copet untuk menghasilkan uang. Sehun mencoba tidak melakukan hal buruk seperti mencopet dan yang lain, namun ia dihajar hingga babak belur. Karena ia ingin hidup lebih lama akhirnya mau tidak mau pekerjaan seperti itu ia jalani.

.

..

“Whoa Sehun-ah, coba kalau kita mengamen seperti itu? Bagaimana usulku? Aku bernyanyi dan kau menari, aigoo aku tidak menyangka betapa hebatnya tarianmu!” sorak Junsu, Sehun hanya tersenyum datar. “Baiklah, itu boleh dicoba. Sepertinya kita akan menjadi trend! Haha, mau mulai sekarang?” Jungmo, yang pandai bermain gitar membawa gitar kesayangannya. Gitar yang ia bawa dari sebelum ia menjadi salah satu penghuni panti asuhan tersebut.

Hana, dul, set!” Jungmo memetik gitarnya, Jinwoon menabuh sebuah kotak bekas, dan Junsu bernyanyi. Sementara Sehun meliuk-liukkan tubuhnya dengan lihai, tiba-tiba saja penonton mereka sangat banyak. Sunny, gadis bertubuh kecil mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik uang dari pertunjukan teman-temannya itu.

Banyak orang terkesan dengan mereka, sampai akhirnya muncul seseorang yang menerobos di tengah Sehun dan teman-temannya. Orang itu menarik kaos yang Sehun kenakan, Sehun menghentikan tariannya menatap gadis imut yang lebih pendek darinya sedang menatap Sehun penuh harap dengan mata hitam kelam yang indah. Gadis itu matanya membentuk huruf ‘O’ dan itu membuat Sehun gemas. Pertunjukan terpaksa berhenti beberapa saat, karena Sehun tidak meneruskan tariannya.

“Ehm, boleh aku ikut pertunjukan kalian?” Sehun mengangkat alis, meski ia paling muda di antara kawan-kawannya yang sedang mengamen saat ini. Ia dipercaya menjadi ketua di antara mereka. “Memang kau mau jadi apa?” tanya Sehun akhirnya, tidak tega dengan gadis itu. “A-aku akan bernyanyi! Dengarkan suaraku dahulu, kalau buruk kau boleh mengusirku. Kumohon, aku sedang kabur dari latihan baletku.” Pintanya, ia sampai mengepalkan kedua tangannya di hadapan Sehun.

“Baiklah, kita uji suaramu. Lagipula kita juga butuh penyanyi perempuan untuk mengimbangi Junsu hyung.” Jawab Sehun akhirnya. “Gumawo, jeongmal gumawoyo!” jerit gadis itu. Musik mengalun lagi, Sehun mulai menari menggerakkan tubuhnya. Lagu What Is Love yang cukup terkenal dilantunkan oleh Junsu. Setelah bait pertama selesai, gadis misterius itu membuka suara. Suara tinggi merdunya membius penonton, para penonton yang awalnya kagum menjadi bertambah kagum mendengar suara gadis itu.

My babe, baby babe, baby baby~ Malhaejwo naege what is love.” Sebuah harmonisasi yang baik, gadis misterius tadi dan Junsu mengakhiri lagu mereka. Semua orang bertepuk tangan, Sehun dan kawan-kawannya membungkukkan diri. “Hey, suaramu indah sekali! Selama ini aku kira suara Junsu hyung paling indah. Terima kasih ya membuat kami mendapat banyak uang hari ini!” Jinwoon tersenyum sambil menepuk lembut pundak gadis itu. “Hihi cheonmanaeyo. Aku merasa senang bisa tampil bersama kalian, kalian semua berbakat!” puji gadis itu dengan semangat.

“Ya, sayang saja bakat kami harus tertahan akibat keadaan ini. Terima kasih, karena kita bisa bekerja sama dan juga karena suara indahmu kami tidak harus disiksa ibu panti lagi.” Sunny tersenyum lembut. Gadis itu terkejut. ‘Disiksa?’ batinnya.

“Kyungsoo? Kyungsoo?” seorang pria paruh baya berteriak dan memecah gerombolan yang mulai membubarkan diri tersebut. “A-appa?” ia terkaget. Seseorang yang sepertinya ayah dari gadis misterius itu memijat pangkal hidungnya. “Appa mencarimu ke mana-mana, mengapa kau ada di sini? Kau bahkan bolos dari latihan balet, benar kan? Ayo sayang masuk ke mobil!” perintah ayah Kyungsoo –gadis itu- dengan tegas, namun sebenarnya pria itu tidak marah. Ia mengerti bahwa balet bukanlah hal yang sesuai dengan anak satu-satunya tersebut.

Mianhae appa, aku kabur ke cafe dekat tempat latihan. Namun aku memutuskan bergabung bersama mereka, mereka hebat sekali seperti mengadakan konser dadakan di tengah jalan. Aku ikut dan menjadi penyanyi utama, dan mereka bilang suaraku indah hihi. Aku senang sekali, mianhae appa.” Ayah Kyungsoo menghembus nafas, beliau kemudian menatap satu-persatu anak-anak dengan keadaan yang lusuh tersebut. Tiba-tiba Kyungsoo menyuruh ayahnya untuk berjongkok dan membisikkan kata-kata ke telinga ayahnya.

“Ah, jadi begitu.” Kata ayahnya. Ayah Kyungsoo mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa lembar Won ke anak-anak itu. “Mulai besok, kalian tidak perlu menjadi pengemis seperti ini. Kalau kalian ingin jadi musisi jadilah musisi seutuhnya, aku yakin ibu panti kalian yang jahat itu akan segera angkat kaki dari tempat kalian tinggal. Kalian bisa tinggal dan hidup dengan nyaman, mulai besok aku berjanji kalau aku akan membeli panti asuhan tempat kalian tinggal dan memberi kalian pengasuh yang baik hati.” Setelah tersenyum, ayah Kyungsoo berbalik. Namun Kyungsoo masih berdiri menatap Sehun. “Hei kau penari yang hebat, percayalah pada ayahku. appa  pasti menepati janjinya. Aku Do Kyungsoo, kau?” Sehun tersenyum, ia hampir menangis bahagia. “Oh Sehun imnida.

Dan beberapa tahun berlalu, semenjak hari itu keluarga Kyungsoo yang kaya-raya mengangkat Sehun sebagai bagian dari keluarga mereka. Memperbaiki kehidupan Sehun, melanjutkan impian Sehun yang sempat terputus dulu.

Flashback off

Ckiiittt!!

Sehun mengerem mobilnya dengan sangat mendadak, untung saja ia dan Luhan mengenakan sabuk pengaman. “Aigoo, Sehunnie! Mengapa kau ceroboh sekali?” Luhan bertanya dengan wajah terkejutnya. “Mianhae chagi, astaga entah mengapa aku seceroboh ini. Kau baik-baik saja kan?” tanya Sehun khawatir. “Kalau aku kenapa-kenapa, kau pasti juga kenapa-kenapa Hunnie. Aku baik-baik saja, lanjutkan saja perjalanan ini.”

Chagi, perasaanku tidak enak.” Luhan mengelus pundak Sehun lembut, “Jangan dipikirkan, doakan saja semoga itu hanya prasangka bukan kenyataan.” Sehun mengangguk lalu menjalankan mobilnya lagi.

Sekitar lima menit kemudian ia dan Luhan sampai di rumah Sehun yang besar, “Bukankah itu mobil Kai?” Sehun tampak bingung dengan mobil BMW hitam milik Kai yang terparkir rapi di depan pagar rumahnya. “Mungkin ia sedang bertamu.” Jawab Luhan, setelah memarkirkan mobilnya ia dan Luhan turun. “Mengapa pintunya tertutup tapi menimbulkan celah ya?” Sehun semakin bingung, biasanya kalau Kai bermain ke rumahnya tapi ia ada di rumah maka pintu itu akan tertutup. Namun bila ia tidak berada di rumah maka pintu itu akan terbuka lebar.

“PERGI! LEPASKANAKU!! BAJINGAN!! AKU BENCI PADAMU!!” Sehun dan Luhan terlonjak mendengar teriakan Kyungsoo. “Noona!” Sehun berlari, ia masuk dan mendapati pemandangan yang tidak sewajarnya di sofa ruang tamunya. Kai –seseorang yang langsung ia kenali dari belakang- sedang menghimpit Kyungsoo, tampak Kai memaksa untuk memeluk Kyungsoo dan bahkan berusaha menciumnya. “Pergi, jangan lakukan lagi..” isak Kyungsoo, tampak sepertinya dua orang itu tidak menyadari kehadiran Sehun dan Luhan. Sehun terpaku dan geram memandang hal yang tersaji di hadapannya sementara Luhan berdiri dengan wajah shocknya.

Sehun langsung menarik kerah baju Kai, membawanya menjauh dari kakaknya. Kai menoleh menatap Sehun yang terlihat sangat marah, sekilas Sehun melihat keadaan kakaknya yang menangis hebat. “Noona, jadi dia? Katakan, jadi Kai yang melakukannya padamu? Mengapa kau melindunginya??” Sehun menaikkan suaranya, Luhan langsung mendekati Kyungsoo dan memeluk gadis itu lembut. “Ssh, Kyungie tenanglah. Ada aku dan Sehun, kau sudah aman.” Kyungsoo mengangguk dengan cepat.

Sehun menatap Kai tidak percaya, teman sebangkunya, sekelas, teman yang ia pikir paling dekat dengannya tega mengkhianatinya seperti ini, tega menyakiti orang yang ia sayangi. “Well, maafkan aku Sehun. Memang aku melakukannya, tapi.. tapi.. biarkan aku menjelaskannya dahulu.”

Bugh!!

Kai terjerembab, meski Sehun berbadan kecil tinjuannya ternyata tidak selemah kelihatannya. Hidup di jalan dan mempertahankan diri menciptakan sisi kasar dalam diri Sehun. “Chagi, tolong bawa noona masuk kamarnya. Aku akan menyelesaikan dengan bajingan ini.” Ucap Sehun, dadanya kembang-kempis menahan amarah. “Ne.” Sepertinya trauma Kyungsoo masih belum dapat hilang, dengan badan bergetar ia dan Luhan naik ke kamar mereka. “Kau, kita bicara di halaman.” Sehun berbalik, dengan menahan perih Kai bangkit dan mengikuti Sehun.

“Katakan apa yang ingin kau katakan Kai.” Sehun berkata dengan tajam. “Maafkan aku.” Jawab Kai, lalu keadaan menjadi sangat hening. “Maaf? Hanya itu? Lalu setelah kau meminta maaf apa kau bisa mengembalikan pribadi kakakku menjadi seperti semula? Lalu apa kau bisa mengembalikan masa depan kakakku yang kau hancurkan? Mengembalikan keperawanannya? Mengembalikan kepercayaanku padamu? APA BISA?”

“Aku akan bertanggung jawab.” Kai berkata dengan yakin, “Bertanggung jawab? Bertanggung jawab katamu? Kau tahu, mungkin aku akan mencari seseorang yang lebih baik untuk kakakku. Bukan orang yang menyakitinya seperti ini, kau kira bertanggung jawab dan menjelaskan semua ini pada orang apalagi orangtuaku semudah mulut sialanmu itu berkata?”

“Sehun, aku akan melakukan apapun yang kau pinta. Aku melakukan ini karena aku mencintai Kyungsoo.” Sehun makin murka, “LALU KALAU KAU MENCINTAINYA KAU BEBAS MELAKUKAN APAPUN PADANYA BEGITU? Tidak bisakah kau mencari cara lain? Demi Tuhan kau masih kelas satu SMA Jongin! Apa yang bisa dilakukan anak seumurmu dalam masalah percintaan seperti ini? Bagaimana kalau kakakku hamil? Lalu orangtuamu tidak menyetujui hubungan kalian? Pada akhirnya kakakku lagi yang terluka, tutup mulutmu bodoh!”

“Bukan seperti itu, aku melakukannya di bawah pengaruh alkohol.” Sehun hendak menampar Kai, namun tangannya ia turunkan lagi. “Pengaruh alkohol? Setelah berkata karena kau mencintai kakakku kau bilang kau mabuk? Alasan apalagi yang bisa kau keluarkan? Kenapa harus kakakku yang menjadi korban sifat binatangmu itu hah?” Kai memajukan tubuhnya.

“Pukul aku Sehun, aku tahu kau menyayangi kakak angkatmu. Kumohon, aku merasa bersalah dengan hal ini. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa agar aku bisa memaafkan diriku sendiri. Memaafkan diriku saja susah bukan main, apalagi meminta kalian memaafkanku. Tapi aku yakin atas perasaanku pada Kyungsoo Sehun, sama seperti kau dengan Luhan noona. Lakukan apapun agar kekesalanmu dan kakakmu berakhir.”

“Kau berkata tanpa berpikir, tidak mudah melakukannya. Dan maaf Kai, aku tidak bisa mempercayaimu lagi. Menghajarmu hanya menghabiskan tenagaku, aku tidak tahu harus berbuat apa padamu. Mungkin Luhannie dan Kyungsoo noona bisa lebih baik dalam mengambil sikap. Sekarang pergilah!” usir Sehun, lalu lelaki yang hanya lebih mudai 3bulan dari Kai tersebut memasuki rumahnya lagi, mengabaikan Kai dengan pandangan sendunya.

TBC

Review Jusseyo, please don’t be a silent reader ;-;

***

Categories: chaptered, Couple, fanfiction | Tags: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: